RADAR JOGJA - Badak Putih Utara (Ceratotherium simum cottoni) dinyatakan punah secara fungsional karena di seluruh dunia hanya tersisa dua individu, yaitu dua ekor betina bernama Najin dan Fatu yang hidup di Ol Pejeta Conservancy di Kenya.
Keduanya adalah pasangan ibu dan anak. Najin lahir pada 1989 dan Fatu pada tahun 2000.
Badak pejantan terakhir yang Bernama Sudan telah mati pada bulan Maret 2018.
Dengan begitu, Badak Putih Utara punah secara fungsional, di mana jumlah hewan yang tersisa sangat sedikit dan tidak ada pasangan lawan jenis, sehingga spesies ini tidak bisa lagi menghasilkan keturunan secara alami.
Baca Juga: Unik! Krisis Air Bersih di Kulon Progo Paksa Warga Jalani Tradisi 'Sedot Selang'
Para ilmuwan dari konsorsium internasional BioRescue terus melakukan upaya penyelamatan subspesies ini melalui bayi tabung.
Hingga tahun ini, para peneliti telah berhasil mengumpulkan dan menciptakan 39 embrio badak putih utara yang disimpan pada suhu beku.
Embrio tersebut akan ditanamkan pada badak putih selatan betina sebagai induk pengganti agar spesies ini bisa lahir kembali.
Karena Najin sudah berusia lanjut, pengambilan sel telurnya dihentikan sejak 2021.
Satu-satunya harapan reproduksi badak putih utara kini ada di Fatu.
Baca Juga: Uis Gara Batak Karo, Kain Tradisional yang Menyimpan Makna Budaya dan Identitas Masyarakat Karo
Meski peluang untuk mengembalikan Badak Putih Utara masih penuh tantangan, upaya melalui teknologi reproduksi menjadi harapan terakhir untuk mencegah subspesies ini benar-benar punah.
Para ilmuwan terus berupaya agar embrio yang telah disimpan dapat berkembang dan menghadirkan generasi baru Badak Putih Utara.
Editor : Meitika Candra Lantiva