RADAR JOGJA - Jika Sungai Code dan Winongo di Jogja masih sering dipenuhi sampah, cerita berbeda datang dari sebuah kota kecil di India. Seorang mahasiswa asal Biaora, Madhya Pradesh, bernama Bittu Tabahi, viral karena aksinya yang tak biasa.
Ia membersihkan Sungai Ajnar seorang diri, setiap hari, selama tiga jam tanpa dibayar sepeserpun.
Aksinya ini bermula pada 26 Januari 2026. Awalnya, Bittu tidak sendiri. Ia mengajak beberapa temannya untuk melakukan aksi bersih-bersih di tepian Sungai Ajnar yang lokasinya berada persis di dekat area peribadatan warga setempat.
Namun, semangat teman-temannya perlahan luntur. Satu per satu mengundurkan diri karena lelah dan jijik dengan kondisi sungai yang penuh limbah. Hanya Bittu yang bertahan hingga hari ini.
Sudah lebih dari 7 bulan, ia menjalani ritual sorenya. Pukul 15.00 sampai 18.00 WIB, ia pasti sudah berada di sungai. Tanpa seragam khusus, tanpa alat berat, hanya dengan tekad.
Baca Juga: NTT Jajaki Investasi Telekomunikasi DIY, HB X: Internet Jangan Jadi Mahal: Ini Tarifnya!
Fakta yang bikin banyak orang tercengang, Bittu ternyata tidak bisa berenang. Meski begitu, ia tetap nekat turun ke aliran sungai yang kotor dan berbau untuk mengangkut sampah dengan tangannya sendiri.
Plastik, popok bekas, limbah rumah tangga, limbah berbahaya, bahkan bangkai hewan yang membusuk dan mencemari aliran air, semua ia angkut ke darat.
Untuk modal awal, ia bahkan rela merogoh kocek pribadinya. Sekitar 30.000 rupee atau setara Rp 5,8 juta ia keluarkan untuk membeli peralatan kebersihan standar seperti cangkul kecil, karung, sepatu boot, sarung tangan, dan tempat sampah yang ia pasang di pinggir sungai agar warga tidak lagi membuang sampah sembarangan.
Perjuangannya yang tulus itu akhirnya viral di media sosial India. Warganet ramai-ramai memberikan donasi, mengirimkan alat kebersihan baru, dan memberikan dukungan moral.
Baca Juga: Menuai Kritik, France Football Coret 5 Nama Besar dari Ronaldo hingga Pedri dari Ballon d’Or 2026
Hasil kerja kerasnya sangat nyata. Dalam sehari, Bittu mampu mengangkat rata-rata 10 kilogram sampah. Jika ditotal sejak ia memulai aksinya, sampah yang berhasil ia bersihkan setara dengan dua truk sampah penuh. Sebuah pencapaian luar biasa untuk satu orang.
Tentu saja, perjuangannya tidak mudah. Karena setiap hari bersentuhan langsung dengan air yang sangat tercemar, Bittu beberapa kali mengalami infeksi kulit yang cukup parah. Kulitnya melepuh dan gatal, namun itu tidak menyurutkan langkahnya.
Bagi Bittu, Sungai Ajnar adalah nadi kehidupan dan juga bagian dari tempat ibadah yang harus dimuliakan.
Kisah Bittu Tabahi ini sontak membuat warganet di Yogyakarta tersentil. Pasalnya, kondisi ini sangat mirip dengan kondisi sungai-sungai di Jogja. Sungai Code, Gajah Wong, dan Winongo juga masih menjadi langganan tumpukan sampah, terutama setelah hujan deras.
Padahal, jika satu mahasiswa di India yang tidak bisa berenang saja bisa menghabiskan 3 jam sehari untuk membersihkan sungai, apa yang bisa kita lakukan untuk sungai di Jogja?
Aksi Bittu menjadi tamparan sekaligus inspirasi. Bahwa menjaga kebersihan sungai tidak perlu menunggu program pemerintah atau komunitas besar. Cukup dimulai dari satu orang, satu jam, dan satu karung sampah.
Editor : Iwa IkhwanudinSumber : Berbagai Sumber