Banjir Bandang Dahsyat Terjang Nepal-Tibet, 392 Orang Tewas dan 1.400 Hilang

Fibrian Putri Heragung • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 15:15 WIB
Banjir Bandang Dahsyat Terjang Nepal-Tibet, 392 Orang Tewas dan 1.400 Hilang
Banjir Bandang Dahsyat Terjang Nepal-Tibet, 392 Orang Tewas dan 1.400 Hilang

 RADAR JOGJA – Banjir bandang dahsyat menerjang kawasan perbatasan Nepal dan Tibet pada Rabu (26/8/2026). Bencana membawa lumpur, batu, serta material longsoran dari pegunungan Himalaya yang menyapu permukiman, jalan, jembatan, hingga proyek pembangkit listrik.

Hingga Jumat (28/8), sedikitnya 392 orang dilaporkan meninggal dunia dan sekitar 1.400 lainnya masih hilang. Distrik Rasuwa menjadi salah satu wilayah yang mengalami kerusakan paling parah. Tim penyelamat terus menyisir kawasan yang tertutup lumpur dan puing untuk mencari korban.

Gelombang Banjir Capai 5-6 Meter

Pilot helikopter Aman Budathoki mengungkapkan bahwa gelombang banjir yang dilihatnya dari udara mencapai sekitar 5-6 meter. Ia melihat pohon besar dan kendaraan terseret arus deras.

Awalnya, Budathoki mengira kepulan debu yang muncul berasal dari aktivitas pembangunan jalan atau ledakan. Namun, tak lama kemudian terlihat material gelap bercampur air deras meluncur dari pegunungan menuju lembah.

Rekaman di lokasi juga memperlihatkan warga berlari menyelamatkan diri sebelum banjir menerjang bangunan. Jalan dan jembatan ikut tersapu, sementara lumpur menimbun sejumlah bangunan hingga bagian lantai atas.

Diduga Dipicu Longsoran Gletser

Bencana sempat dikaitkan dengan gempa setelah US Geological Survey (USGS) mendeteksi getaran berkekuatan magnitudo 4,4 di kawasan perbatasan Nepal-China. Namun, analisis berikutnya menunjukkan getaran tersebut bukan gempa tektonik, melainkan diduga akibat longsoran besar di pegunungan.

Material es, batu, dan salju dalam jumlah besar diperkirakan meluncur menuju lembah dan masuk ke aliran sungai. Sejumlah ilmuwan menduga longsoran gletser menjadi pemicu utama yang menghasilkan getaran setara gempa sekitar magnitudo 5,2 dan kemudian memicu gelombang banjir besar.

Himalaya Semakin Rentan

Perubahan iklim turut menjadi perhatian karena meningkatnya suhu dapat mempercepat pencairan gletser dan membuat lereng pegunungan semakin tidak stabil. Air lelehan juga dapat membentuk danau glasial yang berpotensi meluap.

Curah hujan ekstrem selama musim monsun semakin meningkatkan risiko banjir dan longsor. Para ilmuwan masih menganalisis citra satelit, data hidrologi, kondisi gletser, serta pola hujan untuk memastikan penyebab dan rangkaian bencana tersebut.

Ribuan Orang Masih Dicari

Selain korban meninggal, sekitar 1.400 orang masih dalam pencarian. Sedikitnya 19 jembatan dan hampir 40 kilometer jalan raya terdampak. Sebanyak 28 anggota kepolisian Nepal juga dilaporkan masih hilang.

Pemerintah Nepal mengerahkan helikopter untuk evakuasi dan pencarian korban. Bantuan dari India dan China turut diminta untuk mendukung operasi penyelamatan.

Wisatawan dan WNI Ikut Dipantau

Bencana terjadi saat perjalanan menuju sejumlah lokasi wisata dan keagamaan di Himalaya masih berlangsung. Sebagian orang yang hilang diduga merupakan wisatawan dan peziarah menuju kawasan Gunung Kailash di Tibet. Warga negara India, Amerika Serikat, Australia, Inggris, dan Kanada termasuk di antara warga asing yang dilaporkan hilang.

Puluhan pendaki Nepal di sekitar Danau Gosaikunda, Distrik Rasuwa, juga belum ditemukan.Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Indonesia menyebut terdapat sekitar 45 WNI di Nepal, mayoritas tinggal di Kathmandu dan bekerja di sektor perhotelan. Hingga laporan terakhir, belum ada WNI yang dilaporkan menjadi korban.

KBRI Dhaka dan KBRI Beijing bersama masyarakat Indonesia terus memantau situasi. WNI, khususnya wisatawan dan pendaki, diminta menjauhi wilayah terdampak dan mengikuti arahan otoritas setempat.

Bencana ini kembali menunjukkan tingginya risiko di kawasan Himalaya. Ketidakstabilan gletser dan lereng pegunungan, ditambah hujan ekstrem, dapat memicu longsoran besar yang berubah menjadi gelombang banjir dengan waktu datang yang sangat cepat.

 

( FIBRIAN PUTRI HERAGUNG )

Sumber: Berbagai Sumber

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Berbagai Sumber
Banjir bandang nepal himalaya