RADAR JOGJA - Bencana banjir bandang menerjang kawasan pegunungan di perbatasan Nepal dan China pada Rabu (26/8/2026).
Banjir yang datang secara tiba-tiba tersebut menimbulkan kerusakan besar dan menewaskan ratusan orang, sementara lebih dari 1.500 lainnya masih dinyatakan hilang.
Di Nepal, jumlah korban meninggal dilaporkan telah mencapai 469 orang.
Sementara itu, China melaporkan tiga korban jiwa di wilayah Tibet.
Baca Juga: PAW Lurah Caturtunggal Jadi yang Paling Ketat di Sleman, Ada Sebelas Orang Pendaftar
Proses pencarian terhadap mereka yang belum ditemukan masih berlangsung, dengan sejumlah korban di antaranya merupakan wisatawan, pekerja, serta peziarah dari berbagai negara.
Banjir terjadi setelah material dalam jumlah besar yang diduga berasal dari gletser runtuh dan masuk ke aliran sungai.
Para peneliti menduga peristiwa tersebut sempat menyebabkan aliran air tertahan sebelum kemudian menerjang wilayah di bagian hilir dengan kekuatan besar.
Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) sebelumnya mengidentifikasi peristiwa tersebut sebagai keruntuhan gletser dengan magnitudo 5,2.
Baca Juga: Ferencvaros 4-0 Trabzonspor, Mohamed Salah Cs Dibuat Tak Berdaya di Budapest
Kesimpulan itu diperoleh berdasarkan data stasiun seismik di sekitar lokasi, gelombang seismik periode panjang, serta citra satelit.
Jakob Steiner, ahli geosains dari University of Graz, Austria, mengatakan bagian bawah gletser dalam jumlah besar telah terlepas.
“Bagian bawah dari gletser benar-benar telah runtuh/terlepas,” kata Steiner.
Ia menggambarkan kondisi dalam citra satelit yang memperlihatkan bagian bawah gletser seolah terpotong dan kemudian runtuh.
Dampak runtuhan tersebut semakin parah setelah material es dan bebatuan masuk ke sungai.
Baca Juga: Prediksi Alaves vs Villarreal: Berita Tim dan Perkiraan Susunan Pemain
Peneliti dari International Centre for Integrated Mountain Development (ICIMOD) di Kathmandu mencatat ketinggian air di sejumlah sungai meningkat hingga sekitar 9 meter hanya dalam waktu 30 menit.
Saswat Sanyal, spesialis pengurangan risiko bencana di lembaga penelitian iklim tersebut, mengatakan kenaikan air berlangsung dalam waktu yang sangat singkat.
"Itu adalah kenaikan yang sangat besar, lonjakan air yang sangat besar yang terjadi secara tiba-tiba," kata Sanyal dikutip dari apnews.com.
Kondisi itu membuat masyarakat di sekitar aliran sungai nyaris tidak memiliki waktu untuk menyelamatkan diri.
Selain menghanyutkan bangunan, arus deras juga merusak jembatan, jalan, bendungan pembangkit listrik, serta berbagai infrastruktur penting lainnya.
Baca Juga: PAW Lurah Caturtunggal Jadi yang Paling Ketat di Sleman, Ada Sebelas Orang Pendaftar
Risiko Bencana Meningkat di Himalaya
Peristiwa tersebut kembali menyoroti ancaman yang dihadapi kawasan Hindu Kush Himalaya akibat perubahan kondisi lingkungan.
Wilayah ini memiliki lebih dari 63.000 gletser yang menjadi sumber air bagi sejumlah sistem sungai utama di Asia dan menopang kebutuhan air, pangan, energi, serta kehidupan miliaran penduduk.
Para ilmuwan memang belum memastikan bahwa banjir Nepal secara langsung disebabkan oleh perubahan iklim.
Namun, meningkatnya suhu bumi dinilai dapat memperbesar kemungkinan terjadinya keruntuhan gletser dan bencana berantai di kawasan pegunungan.
Baca Juga: Ferencvaros 4-0 Trabzonspor, Mohamed Salah Cs Dibuat Tak Berdaya di Budapest
Pemanasan membuat gletser terus kehilangan massa.
Pada saat yang sama, lapisan tanah beku atau permafrost yang sebelumnya membantu menjaga kestabilan lereng gunung ikut mencair.
Kondisi tersebut dapat membuat batuan dan lereng menjadi lebih mudah runtuh.
Penelitian yang dilakukan kelompok ilmuwan di Kathmandu menunjukkan laju kehilangan es di kawasan Hindu Kush Himalaya telah meningkat.
Sejak tahun 2000, laju penyusutan gletser di kawasan tersebut disebut telah berlipat ganda.
Baca Juga: Prediksi Alaves vs Villarreal: Berita Tim dan Perkiraan Susunan Pemain
Steiner memperingatkan kondisi tersebut dapat menjadi gambaran ancaman yang akan semakin sering muncul di masa mendatang.
“Apa yang terjadi kemarin sayangnya merupakan normal yang baru. Ini akan menjadi lebih buruk mulai saat ini dan seterusnya,” kata Steiner.
Menurut para peneliti, ancaman tidak hanya berasal dari banjir akibat mencairnya es.
Ketika gletser menyusut, danau glasial dapat membesar sehingga meningkatkan potensi banjir mendadak.
Sementara itu, mencairnya permafrost membuat lereng gunung semakin tidak stabil dan meningkatkan kemungkinan terjadinya longsor maupun aliran material dalam jumlah besar.
Baca Juga: Target Produksi Pangan Nasional 2026 Dipacu, Pemda DIY Genjot Benih Unggul lewat Jogja Benih Expo #2
Sistem Peringatan Dini Jadi Sorotan
Bencana kali ini juga memunculkan pertanyaan mengenai kesiapan sistem peringatan dini di kawasan Himalaya.
Dengan kondisi bencana yang dapat berkembang dalam hitungan menit, masyarakat di wilayah rawan membutuhkan informasi sesegera mungkin untuk melakukan evakuasi.
Sanyal menekankan bahwa waktu yang tersedia untuk menyelamatkan diri dalam situasi seperti ini sangat terbatas.
“Kita tidak punya waktu berjam-jam. Terkadang kita hanya punya waktu beberapa menit untuk benar-benar bersiap,” kata Sanyal.
Nepal sendiri merupakan salah satu negara yang banyak dikunjungi wisatawan dan pendaki.
Kawasan pegunungan yang terdampak juga menjadi jalur menuju sejumlah lokasi wisata dan tempat ziarah penting.
Baca Juga: Man City Siapkan Rp1,7 Triliun untuk Winger Everton, Enzo Fernandez Diklaim Segera Merapat
Para ahli menilai penguatan pemantauan gletser, lereng gunung, dan sungai menjadi semakin penting.
Sistem peringatan dini juga perlu diperluas, disertai pertukaran informasi lintas wilayah agar masyarakat dan wisatawan dapat memperoleh peringatan sebelum bencana mencapai kawasan permukiman.
Bagi para ilmuwan, tragedi tersebut menjadi peringatan bahwa perubahan kondisi pegunungan Himalaya tidak lagi hanya persoalan lingkungan.
Ketidakstabilan gletser dan lereng gunung kini berhadapan langsung dengan permukiman, infrastruktur, serta aktivitas manusia yang terus berkembang di kawasan tersebut.
Editor : Meitika Candra Lantiva