Gelombang Lumpur Raksasa dari Gletser Runtuh Hancurkan Desa di Perbatasan Nepal-Tibet

Editor Content • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 10:36 WIB
Runtuhnya Gletser Langtang Lirung Picu Banjir Bandang Dahsyat Nepal-Tibet: Ratusan Tewas, Lebih dari 1.400 Orang Hilang
Runtuhnya Gletser Langtang Lirung Picu Banjir Bandang Dahsyat Nepal-Tibet: Ratusan Tewas, Lebih dari 1.400 Orang Hilang

NEPAL - Di pagi hari yang cerah tanpa hujan, warga di lembah pegunungan perbatasan Nepal dan Tibet tiba-tiba mendengar gemuruh yang tak biasa. Dalam hitungan menit, dinding lumpur, batu, es, dan air setinggi beberapa lantai menghantam desa-desa di sepanjang sungai. Video yang beredar menunjukkan gelombang tersebut menerjang bangunan, jembatan, dan jalan seolah-olah semuanya hanya mainan. Dalam sekejap, pemandangan hijau yang indah berubah menjadi lautan lumpur cokelat yang menghancurkan segalanya.

Bencana ini bermula dari runtuhnya bagian bawah gletser di dekat puncak Langtang Lirung, salah satu gunung di pegunungan Himalaya. Material es dan batuan jatuh dari ketinggian sekitar 5.200 meter dan menghantam dasar lembah hampir 1.200 meter di bawahnya. Dampaknya begitu kuat hingga tercatat sebagai getaran seismik berkekuatan 5,2 oleh Survei Geologi Amerika Serikat (USGS). Awalnya peristiwa ini disangka gempa bumi, namun analisis lebih lanjut memastikan bahwa getaran tersebut berasal dari longsoran es-batu itu sendiri.

Material yang jatuh kemudian berubah menjadi aliran debris yang sangat cepat. Aliran ini masuk ke sungai Lende Khola (juga disebut Lhende Khola), anak sungai Bhote Koshi, sebelum terus mengalir ke Trishuli. Dalam waktu kurang dari setengah jam, permukaan air di hilir naik tujuh hingga sembilan meter. Kecepatan aliran di beberapa titik diperkirakan mencapai puluhan meter per detik, sehingga warga hampir tidak punya waktu untuk menyelamatkan diri. Dampaknya terasa hingga lebih dari 50 kilometer, bahkan ratusan kilometer di hilir.

Hingga Kamis, 27 Agustus 2026, jumlah korban meninggal dunia telah mencapai lebih dari 360 orang, dengan data Nepal sekitar 359–389 jiwa dan Tibet mencatat tiga orang. Lebih dari 1.400 orang masih dinyatakan hilang, termasuk ratusan wisatawan dan peziarah asing dari India, Amerika Serikat, dan berbagai negara lain yang sedang melakukan perjalanan ke kawasan suci di sekitar Gunung Kailash. Banyak jembatan dan jalan rusak parah, sehingga tim penyelamat harus mengandalkan helikopter untuk menjangkau lokasi yang terisolasi.

Pakar glasiologi menjelaskan bahwa longsoran semacam ini bisa terjadi ketika lapisan batuan di bawah gletser menjadi tidak stabil. Topografi lembah yang sangat curam di Himalaya kemudian memperkuat kecepatan dan daya rusak aliran. Beberapa ilmuwan juga mencatat kemungkinan peran perubahan suhu yang memengaruhi kestabilan es dan permafrost di kawasan tersebut, meskipun penelitian lebih mendalam masih berlangsung.

Warga yang selamat menceritakan betapa tiba-tiba bencana itu datang. Satu saat sungai masih terlihat biasa, detik berikutnya gelombang lumpur sudah menelan rumah dan kendaraan. Tim penyelamat terus bekerja di tengah ancaman banjir sekunder karena material longsoran yang menumpuk di hulu berpotensi membentuk bendungan alami yang bisa jebol sewaktu-waktu.

Peristiwa ini menjadi pengingat keras tentang kerentanan kawasan pegunungan tinggi. Video yang diambil puluhan kilometer dari lokasi runtuhnya gletser memperlihatkan dengan jelas betapa jauh jangkauan kehancuran yang bisa ditimbulkan oleh satu peristiwa di puncak Himalaya. Sementara pencarian korban masih berlanjut, perhatian dunia tertuju pada upaya bantuan dan pemahaman lebih baik terhadap risiko yang dihadapi komunitas di sepanjang lembah-lembah curam tersebut.

 

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Berbagai Sumber
bencana Himalaya banjir bandang Nepal Runtuhnya Gletser Langtang Lirung Nepal Tibet Flood