NEPAL – Lebih dari 150 orang meninggal dunia dan ratusan lainnya masih hilang setelah gelombang besar berisi air, es, lumpur, batu, pepohonan, dan material tanah menerjang lembah Sungai Bhote Koshi di Nepal.
Material tersebut mengalir sejauh lebih dari 170 kilometer menyusuri lembah yang menjadi jalur utama penghubung Kathmandu di Nepal dengan Lhasa di Tibet. Sedikitnya 34 warga Australia dilaporkan termasuk dalam daftar orang yang masih hilang.
Bencana berlangsung dengan sangat sedikit peringatan. Rekaman video yang memperlihatkan derasnya aliran material menerjang kawasan permukiman dan infrastruktur menunjukkan betapa dahsyatnya kekuatan banjir tersebut.
Sejumlah analisis awal mengindikasikan bencana kemungkinan dipicu oleh runtuhnya gletser secara tiba-tiba. Namun, para ahli menegaskan penyebab pastinya masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Awalnya Dikira Gempa
Baca Juga: Drawing Putaran Ketiga Carabao Cup: Liverpool vs Tottenham Hotspur, Manchester United vs Brighton
Dilansir dari theconversation.com skala longsoran es dan batu yang menerjang lembah begitu besar hingga aktivitasnya sempat dianggap sebagai gempa bumi. Energi seismik yang dihasilkan bahkan tercatat oleh seismograf sebagai gempa berkekuatan 4,4 magnitudo.
Material kemudian bergerak mengikuti lembah sungai dan mencapai Gyirong Port, salah satu titik perlintasan perbatasan Nepal-China.
Di kawasan tersebut, dinding material yang terdiri dari lumpur, batu, es, air, dan puing menyerupai tsunami lumpur. Perkiraan awal menyebut gelombang material tersebut bisa mencapai ketinggian sekitar 30 meter.
Dampaknya sangat luas. Jalan raya rusak, permukiman terdampak, sementara berbagai fasilitas infrastruktur di sepanjang aliran sungai ikut tersapu.
Diduga Bukan Banjir Danau Gletser
Salah satu kemungkinan penyebab bencana semacam ini adalah jebolnya danau yang terbentuk dari lelehan gletser dan tertahan oleh longsoran. Peristiwa tersebut dikenal sebagai glacial lake outburst flood (GLOF).
Nepal pernah mengalami kejadian serupa pada 2024.
Namun, analisis awal terhadap bencana kali ini menunjukkan mekanismenya kemungkinan berbeda. Citra satelit mengindikasikan longsoran besar mungkin mengikis bagian dari gletser dan kemudian memicu keruntuhan massa es dalam jumlah sangat besar.
Penyebab awal runtuhnya gletser tersebut belum diketahui secara pasti.
Meski demikian, fenomena ini menjadi perhatian serius karena gletser di berbagai belahan dunia terus mengalami penyusutan seiring meningkatnya suhu global.
Himalaya Menghadapi Ancaman Perubahan Iklim
Baca Juga: Banjir Bandang di Perbatasan Nepal-Tibet Tewaskan 157 Orang, Ratusan Wisatawan Masih Hilang
Pegunungan Himalaya menjadi salah satu kawasan yang sangat rentan terhadap perubahan iklim. Wilayah tersebut kerap disebut sebagai “kutub ketiga dunia” karena menyimpan cadangan salju dan es terbesar setelah kawasan Arktik dan Antarktika.
Perubahan iklim menyebabkan gletser di kawasan tersebut mengalami pencairan dan kemunduran. Ancaman tidak hanya datang dari berkurangnya volume es, tetapi juga dari ketidakstabilan lereng pegunungan.
Banyak lereng curam Himalaya tersusun dari permafrost, yakni lapisan tanah, batu, dan es yang membeku selama bertahun-tahun.
Ketika temperatur meningkat, lapisan tersebut dapat mencair dan kehilangan kemampuannya untuk mengikat material batu serta tanah. Kondisi ini membuat lereng menjadi lebih rentan mengalami longsor, runtuhan batu, dan pergerakan material dalam jumlah besar.
Gangguan seperti gempa bumi, runtuhan batu atau kegagalan lereng kemudian dapat memicu pergerakan material secara tiba-tiba menuju wilayah yang lebih rendah.
Bukan Pertama Kalinya Bencana Serupa Terjadi
Banjir dan aliran debris yang berkaitan dengan perubahan kondisi gletser telah terjadi di berbagai wilayah pegunungan dunia.
Tahun lalu, banjir yang lebih kecil menerjang distrik yang sama di Nepal dan menewaskan sembilan orang.
Pada tahun yang sama, pencairan gletser di Swiss memicu aliran material besar yang menghancurkan Desa Blatten.
Sementara itu, pada 2023, longsor yang kemudian diikuti banjir di sebuah kawasan wisata pegunungan di Georgia menewaskan 33 orang.
Namun, bencana yang terjadi di Nepal kali ini disebut sebagai salah satu peristiwa terbesar yang pernah terjadi.
Sistem Peringatan Dini Bisa Selamatkan Nyawa
Meski bencana akibat runtuhnya gletser tidak selalu dapat dicegah, dampaknya terhadap manusia dapat dikurangi melalui sistem pemantauan dan peringatan dini.
Baca Juga: Viral! Kunjungan Kadisdik TTU ke SDN Oelfab Terjang Sungai Deras, Murid SD Beri Semangat
Contohnya terjadi di Swiss ketika gletser runtuh. Tidak ada korban jiwa karena sistem peringatan dini telah tersedia dan otoritas setempat mengevakuasi penduduk sebelum gletser jatuh.
Sistem peringatan dini dapat memantau berbagai indikator, termasuk kenaikan permukaan sungai secara cepat, curah hujan ekstrem, serta gelombang seismik yang dapat menjadi tanda awal pergerakan material.
Dengan informasi tersebut, masyarakat di wilayah berisiko dapat memperoleh waktu untuk melakukan evakuasi.
Persoalannya, pembangunan dan pemeliharaan sistem semacam itu membutuhkan investasi besar. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi negara-negara berkembang dan berpendapatan rendah.
Kabar baiknya, Green Climate Fund pada tahun lalu mengumumkan dukungan pendanaan untuk meningkatkan sistem pemantauan di Nepal.
Ancaman Air bagi Miliaran Penduduk
Gletser Himalaya memiliki peran penting bagi kehidupan masyarakat di kawasan Asia Selatan. Air dari lelehan gletser mengalir ke sungai-sungai yang menjadi sumber air bagi miliaran orang di Nepal, Pakistan, India, dan China.
Pemanasan global dapat meningkatkan pencairan gletser dalam jangka pendek. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan debit sungai dan risiko banjir di sejumlah wilayah.
Namun, jika gletser terus menyusut dalam jangka panjang, kontribusinya terhadap aliran sungai juga dapat menurun. Dampaknya berpotensi dirasakan terutama pada musim kemarau ketika kebutuhan air tetap tinggi.
Karena itu, upaya menghadapi risiko bencana tidak hanya membutuhkan respons setelah bencana terjadi. Pengurangan emisi gas rumah kaca, peningkatan sistem peringatan dini, serta pemantauan kawasan pegunungan yang rentan menjadi langkah penting untuk melindungi masyarakat.
Baca Juga: Manchester City Rekrut Rekan Calvin Verdonk di Lille, Ayyoub Bouaddi dengan Mahar Fantastis
Langkah-langkah tersebut memang tidak dapat mencegah seluruh bencana. Namun, sistem yang lebih baik dapat memberikan waktu bagi masyarakat untuk menyelamatkan diri sekaligus membantu mereka beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang semakin cepat.
Editor : Bahana.