China Kembangkan Navigasi Berbasis Bintang untuk Rudal Hipersonik

Regina Renate Yosuana • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 15:43 WIB
Istimewa
Istimewa

RADAR JOGJA – China dilaporkan tengah mengembangkan teknologi navigasi berbasis bintang yang dapat membantu kendaraan hipersonik menentukan posisi dan orientasi tanpa sepenuhnya mengandalkan sinyal satelit. Sistem tersebut memanfaatkan prinsip navigasi benda langit atau celestial navigation.

Teknologi ini dikembangkan tim yang dipimpin Guangdong Aerospace Research Academy dan disebut telah melewati proses peninjauan ahli pada 10 Agustus 2026.

Secara sederhana, sistem tersebut bekerja dengan mengamati pola bintang menggunakan sensor. Data visual yang diperoleh kemudian dicocokkan dengan informasi astronomi untuk memperkirakan posisi dan arah kendaraan.

Konsep navigasi menggunakan bintang sebenarnya bukan teknologi baru. Manusia telah memanfaatkannya selama berabad-abad untuk menentukan arah perjalanan. Tantangan terbesarnya kini adalah bagaimana membuat metode tersebut tetap akurat ketika diterapkan pada kendaraan yang bergerak dengan kecepatan sangat tinggi.

Baca Juga: Harga Ayam Broiler di Pasar Argosari Tembus Rp 42 Ribu per Kg, Pedagang Mengeluh Sepi Pembeli

Alternatif Saat Sinyal Satelit Terganggu

Kebutuhan terhadap sistem navigasi alternatif menjadi semakin penting seiring berkembangnya kendaraan hipersonik. Kendaraan dalam kategori tersebut dapat bergerak dengan kecepatan sedikitnya lima kali kecepatan suara.

Dalam kondisi tertentu, navigasi yang bergantung pada sinyal satelit seperti GPS maupun BeiDou berpotensi menghadapi gangguan. Pengacauan atau hilangnya sinyal dapat membuat sistem navigasi tidak bekerja secara optimal.

Navigasi berbasis bintang menawarkan pendekatan berbeda karena tidak membutuhkan pancaran sinyal dari satelit. Kendaraan cukup mengamati benda langit yang dapat terlihat dan menggunakannya sebagai referensi untuk memperkirakan posisi serta orientasi.

Meski demikian, penerapannya pada kendaraan hipersonik menghadirkan tantangan teknis yang tidak sederhana.

Cahaya Bintang Harus Menembus Kondisi Ekstrem

Ketika kendaraan bergerak dengan kecepatan sangat tinggi, panas dan perubahan kondisi aliran udara di sekitarnya dapat memengaruhi cahaya yang masuk menuju sensor.

Gangguan tersebut berpotensi membuat posisi bintang yang terdeteksi sensor tampak bergeser dari posisi sebenarnya. Jika tidak dikoreksi, kondisi ini dapat mengurangi ketepatan navigasi.

Karena itu, tim peneliti mengembangkan model dan sistem sensor yang dirancang untuk mengenali pola bintang dalam lingkungan penerbangan ekstrem.

Para peneliti disebut mempelajari pengaruh radiasi serta kondisi lingkungan di sekitar kendaraan. Data tersebut kemudian digunakan dalam pemodelan untuk memperkirakan perubahan yang dialami cahaya bintang sebelum diterima sensor.

Hasil pemodelan menjadi salah satu dasar dalam pengembangan prototipe sistem navigasi tersebut.

Tingkat Pengenalan Bintang Capai Lebih dari 99 Persen

Dalam pengujian yang dilaporkan, prototipe mampu mengenali pola bintang dengan tingkat keberhasilan lebih dari 99 persen dalam kondisi tanpa gangguan.

Sementara ketika sistem menghadapi gangguan radiasi yang berkaitan dengan penerbangan berkecepatan tinggi, tingkat pengenalan yang dilaporkan masih berada di atas 80 persen.

Baca Juga: Ombak Besar, Dua Laka Laut Terjadi dalam Sehari di Gunungkidul

Akurasi pengukuran orientasi juga disebut mencapai lebih baik dari 5 detik busur. Namun, angka tersebut merupakan hasil pengujian yang dilaporkan oleh pihak pengembang dan belum dapat diartikan sebagai bukti bahwa sistem telah digunakan secara luas pada kendaraan operasional.

Perkembangan ini menarik perhatian karena menunjukkan potensi navigasi berbasis bintang sebagai salah satu komponen dalam sistem navigasi gabungan untuk kendaraan berkecepatan tinggi.

Teknologi tersebut juga tidak berarti seluruh rudal hipersonik China saat ini telah menggunakan navigasi berbasis bintang. Informasi yang tersedia lebih menunjukkan tahap pengembangan dan pengujian prototipe.

Berpotensi Dipakai di Luar Bidang Militer

Selain untuk kebutuhan navigasi kendaraan hipersonik, teknologi yang dikembangkan juga berpotensi memiliki manfaat di bidang lain.

Kemampuan mendeteksi serta memodelkan pengaruh radiasi dan lingkungan ekstrem dapat digunakan untuk mendukung penelitian kedirgantaraan sipil. Teknologi serupa juga berpotensi diterapkan dalam pengujian mesin pesawat maupun pemantauan proses pembakaran pada sejumlah peralatan industri.

Dengan demikian, riset navigasi berbasis bintang tersebut tidak hanya berkaitan dengan kemampuan kendaraan berkecepatan tinggi untuk menentukan arah. Pengembangan sensor dan pemodelan lingkungan ekstrem juga dapat membuka peluang pemanfaatan teknologi dalam berbagai bidang.

Editor : Bahana.
Navigasi Bintang Hipersonik teknologi kedirgantaraan china