RADAR JOGJA - Jaringan listrik di Kuba kembali mengalami kegagalan total pada Minggu (2/8/2026) malam waktu setempat.
Berdasarkan pengumuman BUMN penyedia listrik setempat via media sosial, tumbuhnya sistem kelistrikan nasional ini memicu pemadaman meluas di seluruh penjuru negeri, menambah daftar panjang krisis energi yang melanda negara Karibia tersebut.
Rentetan gangguan ini dipicu oleh embargo minyak Amerika Serikat yang kian memperberat beban infrastruktur energi Kuba yang sudah udzur.
Pihak otoritas listrik negara sendiri belum membeberkan rincian teknis mengenai pemicu hancurnya jaringan tersebut.
Baca Juga: Heboh Kemunculan Ular Piton Raksasa di Kalideres Jakbar, Bikin Warganet Salah Fokus
Defisit energi yang berkepanjangan ini membuat Kuba kian keteteran mengamankan pasokan BBM untuk pembangkit.
Impor energi kian tersendat pasca-penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh AS pada Januari lalu, mengingat Venezuela merupakan sekutu terdekat sekaligus pemasok BBM utama Kuba.
Di sisi lain, Meksiko turut menyetop pengiriman minyak akibat tekanan Washington.
Kondisi tersebut memperkeruh kelangkaan energi yang sudah berlangsung berbulan-bulan.
Pemadaman bergilir di tengah cuaca panas memaksa warga menyesuaikan total aktivitas mereka; banyak yang terpaksa terjaga di tengah malam hanya untuk memasak, mencuci, mengakses internet, atau sekadar mencari pendinginan.
Baca Juga: Belum Genap Dua Bulan Terjadi Lagi, 61 Siswa SMK Negeri 1 Nanggulan Diduga Keracunan MBG
Menghadapi tekanan ekonomi dan energi yang kian menghimpit, pemerintah Kuba mulai melonggarkan aturan ekonomi guna membuka keran investasi dan partisipasi sektor swasta.
Pada Juli lalu, Perdana Menteri Manuel Marrero Cruz mengumumkan persetujuan proyek investasi asing pertama untuk impor dan distribusi BBM, di mana Reuters mencatat sekitar 200 perusahaan telah mengantongi izin distribusi grosir.
Selain itu, sektor pariwisata yang terpuruk akibat penutupan hotel dan pembatalan penerbangan juga mulai dibuka untuk modal swasta.
Kendati demikian, pemerintah menegaskan bahwa dampak reformasi ini tidak bisa dirasakan secara instan dan membutuhkan proses bertahap.
Baca Juga: Erick Thohir Dukung Gianni Infantino Kembali Pimpin FIFA
"Hasilnya akan dicapai secara bertahap," kata Marrero.
Ia juga menyadari bahwa tantangan terberat justru timbul setelah regulasi anyar tersebut resmi diundangkan.
"Mulai sekarang, tahap yang paling penting, dan mungkin yang paling sulit, dimulai," ujarnya.