RADAR JOGJA - Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran tidak hanya membawa dampak terhadap situasi geopolitik di Timur Tengah, tetapi juga menguras anggaran dalam jumlah sangat besar.
Biaya operasi militer yang terus meningkat bahkan diperkirakan setara dengan lebih dari 15 ton emas untuk setiap hari perang berlangsung.
Berdasarkan sejumlah laporan, pengeluaran militer Amerika Serikat selama konflik mencapai kisaran USD2 miliar per hari.
Angka tersebut merupakan estimasi yang banyak dijadikan acuan karena mencakup berbagai kebutuhan operasi, mulai dari pengerahan pasukan hingga penggunaan persenjataan modern.
Baca Juga: Jersey Final Piala Dunia 1958 Milik Pele Terjual dengan Harga Fantastis Senilai 87 Milyar
Besarnya biaya tersebut berasal dari berbagai komponen.
Salah satunya adalah penggunaan amunisi dalam jumlah besar pada fase awal pertempuran.
Selain itu, biaya pengoperasian kapal induk, pesawat tempur, sistem pertahanan rudal, hingga penggantian alutsista yang rusak turut membuat pengeluaran militer terus membengkak.
Untuk memberikan gambaran yang lebih mudah dipahami, nilai pengeluaran harian itu dikonversikan ke harga emas berdasarkan kurs rupiah dan harga emas terkini.
Dengan asumsi nilai tukar dolar AS berada di kisaran Rp 18.100 serta harga emas sekitar Rp 2,338 miliar per kilogram, biaya perang sebesar USD2 miliar per hari setara dengan sekitar 15.483 kilogram emas atau lebih dari 15 ton emas murni.
Jika dikonversi ke mata uang rupiah, biaya tersebut mencapai sekitar Rp 36,2 triliun dalam sehari.
Nilai itu menggambarkan besarnya dana yang harus dikeluarkan hanya untuk mempertahankan operasi militer dalam waktu 24 jam.
Besarnya anggaran perang juga menunjukkan bahwa dampak konflik tidak hanya dirasakan di medan tempur.
Setelah pertempuran mereda sekalipun, negara yang terlibat masih harus menanggung biaya pemulihan, perbaikan peralatan militer, hingga pembangunan kembali infrastruktur yang terdampak.
Hal itu membuat beban ekonomi akibat perang dapat berlangsung jauh lebih lama dibandingkan konflik itu sendiri.
Editor : Meitika Candra Lantiva