RADAR JOGJA - Sebanyak 10 biksu Buddha tewas setelah truk pick-up yang dikemudikan seorang anak berusia 11 tahun menabrak rombongan biksu yang tengah berjalan kaki di jalur pindapata di Provinsi Mukdahan, Thailand timur laut, Kamis (2/7/2026).
Insiden ini terjadi sekitar 600 kilometer dari Bangkok.
Rombongan yang ditabrak berjumlah 35 biksu dan lima pengikut awam, yang baru sekitar 30 menit memulai perjalanan sejauh 260 kilometer menuju Provinsi Ubon Ratchathani.
Rekaman CCTV dari properti di dekat lokasi memperlihatkan para biksu berjalan berbaris di pinggir jalan sebelum terdengar suara benturan keras dan barisan tersebut berhenti bergerak.
Baca Juga: Video Messi Jalani Pemeriksaan di Bandara AS Viral, Ekspresinya Curi Perhatian
Lima biksu dilaporkan tewas di lokasi kejadian, sementara lima lainnya menyusul meninggal dunia di rumah sakit dalam beberapa hari berikutnya.
Hingga Jumat (3/7/2026), sepuluh orang lainnya masih dirawat di rumah sakit, dua di antaranya dalam kondisi kritis.
Polisi menyebut anak yang mengemudikan truk tersebut mengambil kendaraan milik orang tuanya tanpa izin sebelum kehilangan kendali dan menabrak rombongan biksu.
Karena pelaku masih di bawah umur, penyidik menyatakan proses hukum akan melibatkan petugas perlindungan anak, dan pihak keluarga diminta hadir untuk menentukan tanggung jawab pengasuhan anak tersebut.
Baca Juga: Tapir Langka Muncul di Mesuji Lampung, Viral di Medsos hingga Berakhir Disembelih Warga
Gubernur Mukdahan, Worrayan Boonnarat, menyebut insiden ini sebagai peringatan keras soal keselamatan berkendara.
Thailand dikenal memiliki salah satu catatan keselamatan jalan raya terburuk di dunia, dengan faktor seperti kebut-kebutan dan lemahnya penegakan aturan lalu lintas.
Perawat yang melanggar pantangan demi menolong di tengah kepanikan pasca-kecelakaan, sebelum tim medis lain tiba seorang perawat bernama Wiwat Laonoi menjadi orang pertama yang memberi pertolongan di lokasi.
Wiwat, yang telah berprofesi sebagai perawat selama hampir empat dekade, mengaku belum pernah menghadapi situasi seburuk itu sepanjang kariernya.
Wiwat sempat diingatkan orang di sekitarnya karena dalam kepercayaan Buddha, perempuan tidak diperkenankan menyentuh biksu.
Namun ia tetap memilih memberikan pertolongan, dengan alasan bahwa dalam situasi darurat siapa pun yang terluka adalah pasien yang harus ditolong terlebih dahulu.
Ia memeriksa denyut nadi, melakukan CPR, dan berkoordinasi dengan rumah sakit setempat sambil berpindah dari satu korban ke korban lainnya.
Wiwat, yang berasal dari Mukdahan dan rencananya pensiun pada September mendatang, mengaku bangga bisa menggunakan keahliannya untuk menolong sesama pada momen kritis tersebut.
Editor : Meitika Candra Lantiva