YOGYAKARTA – Sebuah momen budaya yang sangat berkesan terjadi di panggung internasional. Budayawan senior asal Yogyakarta, Butet Kartaredjasa, mendapatkan kesempatan untuk menyerahkan langsung karya lukisan bertema Jalan Salib versi Jawa kepada Paus Leo XIV.
Pertemuan tersebut berlangsung di kompleks Basilika Santo Petrus, Vatikan, pada Rabu, (17/06) sekitar pukul 12.30 waktu setempat.
Budayawan tersebut mengatakan momen pertemuan ini tidak didapatkan secara instan. Butet mengungkapkan bahwa ada proses peninjauan yang cukup panjang sebelum dirinya diundang secara resmi ke Vatikan.
Beberapa bulan sebelum keberangkatannya, lukisan tersebut harus dikirimkan terlebih dahulu ke Sekretariat Vatikan. Di sana, karya seni tersebut melalui proses peninjauan sebelum akhirnya Butet menerima undangan resmi untuk menyerahkannya secara langsung.
Pada hari H pertemuan, Butet yang hadir didampingi oleh sang istri harus rela menunggu giliran sejak pagi hari bersama banyak tamu lain yang juga ingin bertemu dengan Paus di halaman Basilika Vatikan.
Baca Juga: Renovasi Stadion Mandala Krida Jogja Terganjal Anggaran Uji Tanah
Karya yang dibawa oleh Butet ke Vatikan merupakan sebuah perpaduan seni budaya nusantara yang sangat kental. Lukisan tersebut mengangkat visualisasi kisah sengsara Yesus Kristus (Jalan Salib) namun dibalut dengan sentuhan budaya Jawa.
Di dalam lukisan tersebut, Butet menghadirkan tokoh-tokoh pewayangan Punakawan, yaitu: Semar, Gareng, Petruk, Bagong
Kehadiran para Punakawan ini dihadirkan sebagai simbol kemanusiaan sekaligus bentuk refleksi spiritual yang mendalam. Bagi Butet, perjalanan fisik membawa karya bermakna ini hingga ke Vatikan menjadi sebuah perjuangan panjang yang luar biasa dan diakuinya sebagai salah satu momen paling berkesan dalam hidupnya.
Peristiwa penyerahan lukisan ini membawa pesan yang jauh lebih luas daripada sekadar hubungan antara seorang seniman dan pemimpin agama. Kehadiran Butet di Vatikan menjadi simbol nyata dari indahnya dialog lintas iman serta perpaduan seni dan budaya Indonesia.
Melalui momen bersejarah ini, kekayaan filosofi budaya tradisional Indonesia berhasil mendapatkan apresiasi yang tinggi di tingkat dunia. (Tita Aurelia Pitaloka)
Editor : Bahana.