Education Expo Ekonomi Jogja 24 Jam News Opini Ramadhan Sport Visual Report Weekend

Serangan Rumah Sakit di Sudan Picu Kecaman Dunia, PBB dan WHO Serukan Perdamaian

Magang Radar Jogja • 2026-03-27 13:55:03
Ilustrasi warga Sudan. (UNICEF)
Ilustrasi warga Sudan. (UNICEF)

RADAR JOGJA - Tragedi kemanusiaan kembali terjadi di Sudan setelah serangan terhadap Rumah Sakit Pendidikan El-Daein di Darfur Timur menewaskan puluhan orang, termasuk anak-anak dan tenaga kesehatan. 

Peristiwa ini memicu kecaman luas dari komunitas internasional, termasuk World Health Organization (WHO) dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyampaikan keprihatinan mendalam atas serangan yang menghantam fasilitas medis tersebut.

Ia menegaskan bahwa rumah sakit yang terdampak mengalami kerusakan parah, terutama pada unit pediatri, maternitas, dan layanan darurat, sehingga tidak lagi dapat beroperasi.

Baca Juga: Urung Uji Coba Hari Ini, BKPSDM Godok Tiga Skema Penerapan WFH Pegawai Pemkot Jogja 

“Cukup sudah darah tertumpah,” ujar Tedros, dikutip dari Hurriyet Daily News, upaya mendesak diakhirinya konflik yang telah berlangsung hampir tiga tahun.

Serangan itu dilaporkan menewaskan sedikitnya 60 hingga 64 orang, termasuk anak-anak, pasien, dokter, dan perawat.

 Selain korban jiwa, sejumlah tenaga kesehatan juga mengalami luka-luka, memperburuk kondisi layanan medis di wilayah yang sudah krisis.

Dugaan Serangan Drone dan Konflik Berkepanjangan

Insiden ini diduga dipicu oleh serangan drone militer di wilayah yang selama ini menjadi titik panas konflik antara militer Sudan dan kelompok Rapid Support Forces (RSF).

 Kota El-Daein sendiri diketahui berada di bawah kendali RSF dan kerap menjadi sasaran operasi militer.

Sejak konflik pecah pada April 2023, fasilitas kesehatan berulang kali terdampak kekerasan.

Baca Juga: Jumlah Terbanyak di Gunungkidul, DIY Targetkan 7.584 Ton Ikan Tangkap Tahun Ini

WHO mencatat lebih dari 200 serangan terhadap layanan kesehatan yang telah menewaskan lebih dari 2.000 orang. Hal ini menunjukkan betapa rentannya sektor medis dalam konflik ini.

Tedros menekankan bahwa dampak serangan terhadap fasilitas kesehatan tidak hanya dirasakan saat ini, tetapi juga dalam jangka panjang bagi masyarakat yang sangat bergantung pada layanan tersebut.

“Fasilitas kesehatan seharusnya tidak pernah menjadi target. Perdamaian adalah obat terbaik,” tegasnya.

PBB Desak Hentikan Eskalasi

Kecaman juga datang dari Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres. Melalui juru bicaranya, ia menegaskan pentingnya perlindungan terhadap warga sipil dan fasilitas medis sesuai hukum humaniter internasional.

“Sekjen PBB mendesak semua pihak mematuhi kewajiban mereka di bawah hukum humaniter internasional… serta melarang serangan yang ditujukan terhadap warga dan objek sipil,” ujar juru bicara PBB tersebut.

Baca Juga: Sempat ATH Harga Rp 3.168.000, Emas Antam Kembali Mengalami Penurunan

Guterres juga menyerukan penghentian segera pertempuran serta mengajak semua pihak untuk kembali ke meja perundingan guna mencapai gencatan senjata yang berkelanjutan.

Serangan terhadap rumah sakit di Sudan menjadi pengingat pahit bahwa konflik berkepanjangan terus memakan korban dari kalangan paling rentan.

 Di tengah kehancuran fasilitas kesehatan, seruan perdamaian kembali digaungkan, namun tantangannya kini adalah bagaimana mewujudkannya di lapangan.

Bagi masyarakat Sudan, harapan sederhana tetap sama, yakni akses terhadap layanan kesehatan yang aman, dan kehidupan tanpa bayang-bayang perang. (Lintang Perdana)

 

Editor : Meitika Candra Lantiva
#rumah sakit pendidikan El-Daein #Darfur Timur #tragedi kemanusiaan #WHO #serangan #sudan