TEHERAN, 22 Maret 2026 – Iran mengumumkan pembukaan kembali akses Selat Hormuz bagi kapal-kapal dari negara yang tidak dianggap sebagai "musuh", dengan syarat wajib berkoordinasi keamanan dan keselamatan terlebih dahulu.
Pernyataan ini disampaikan oleh perwakilan Iran di International Maritime Organization (IMO) dan dilaporkan oleh kantor berita Mehr, Minggu (22/3/2026).
Menurut pernyataan resmi tersebut, Selat Hormuz tetap terbuka untuk lalu lintas pelayaran internasional, kecuali bagi kapal-kapal yang berafiliasi dengan negara-negara musuh Iran, terutama Amerika Serikat dan Israel yang terlibat dalam serangan militer baru-baru ini terhadap wilayah Iran.
"Iran tidak menutup Selat Hormuz secara total. Jalur ini hanya ditutup bagi kapal musuh dan negara yang menyerang kami. Bagi negara lain, kapal dapat melintas dengan syarat berkoordinasi keamanan terlebih dahulu," demikian bunyi pernyataan yang dikutip dari perwakilan IMO Iran.
Pengumuman ini muncul di tengah eskalasi konflik Timur Tengah yang telah berlangsung hampir tiga pekan, di mana Selat Hormuz—yang mengalirkan sekitar 20-21% pasokan minyak dunia—menjadi titik krusial.
Penutupan parsial sebelumnya telah memicu lonjakan harga minyak global dan kekhawatiran gangguan rantai pasok energi.
Beberapa negara netral seperti India, China, dan Pakistan dilaporkan telah mendapat izin melintas dalam beberapa hari terakhir setelah berkoordinasi dengan otoritas Iran.
Sementara itu, Jepang menolak tawaran negosiasi bilateral langsung dengan Teheran dan memilih berkoordinasi dengan Amerika Serikat serta sekutu Eropa untuk menjaga keamanan maritim, seperti diungkapkan Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi pada Minggu pagi.
Reaksi internasional beragam.
Sebagian pengamat menilai langkah Iran ini sebagai upaya de-eskalasi terukur sekaligus memperkuat kendali atas jalur strategis tersebut.
Namun, kritik muncul bahwa kebijakan "koordinasi keamanan" ini berpotensi menjadikan Iran sebagai "pengelola tol" tidak resmi di Selat Hormuz, sehingga melegitimasi kontrol sepihak atas perairan internasional.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya memberikan ultimatum 48 jam kepada Iran untuk membuka sepenuhnya Selat Hormuz, dengan ancaman serangan terhadap infrastruktur energi Iran jika tidak dipenuhi. Situasi ini semakin memanaskan ketegangan, dengan kapal selam bertenaga nuklir Inggris dilaporkan tiba di Laut Arab dan berbagai insiden drone serta rudal terus terjadi di kawasan.
Pemerintah Indonesia dan pelaku industri energi nasional diimbau memantau perkembangan ini secara ketat, mengingat ketergantungan impor minyak mentah melalui jalur tersebut. Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi resmi mengenai daftar lengkap negara "musuh" yang dilarang melintas, meski AS dan Israel disebut secara eksplisit. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin