Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Warga Palestina Berduka! Masjid Al Aqsa Ditutup Akibat Perang Israel-AS Melawan Iran, Warga Memilih Salat Id di Jalanan Kota

Bahana. • Sabtu, 21 Maret 2026 | 11:28 WIB

Warga Palestina manjalankan Salat Id di luar Kota Tua Yerusalem pada Jumat (20/3) pagi (ANTARA)
Warga Palestina manjalankan Salat Id di luar Kota Tua Yerusalem pada Jumat (20/3) pagi (ANTARA)
Suasana Idul Fitri di Palestina tahun ini dilaporkan diliputi duka dan ketegangan.

Untuk pertama kalinya sejak 1967, Masjid Al-Aqsa di Yerusalem ditutup pada akhir Ramadan, membuat ribuan warga Palestina tak bisa menunaikan shalat id di salah satu situs suci paling penting bagi umat Islam.

Penutupan kompleks Al-Aqsa oleh otoritas Israel memicu kemarahan dan kesedihan warga.

Dilansir dari Jawapos, ratusan jamaah terpaksa melaksanakan shalat di luar Kota Tua Yerusalem setelah polisi Israel memasang barikade dan menutup akses menuju masjid.

Kebijakan tersebut diberlakukan sejak 28 Februari dengan dalih keamanan terkait meningkatnya ketegangan akibat perang AS-Israel melawan Iran.

Namun, warga Palestina menilai langkah itu sebagai bagian dari strategi Israel untuk memperketat kontrol atas kawasan suci Al-Aqsa, yang bagi umat Islam dikenal sebagai Al-Haram Al-Sharif.

“Hari ini adalah hari paling menyedihkan bagi umat Muslim di Yerusalem,” kata Hazen Bulbul, warga berusia 48 tahun yang sejak kecil rutin merayakan akhir Ramadan di Al-Aqsa.

“Apa yang saya khawatirkan adalah ini menjadi preseden berbahaya. Mungkin ini yang pertama, tapi bukan yang terakhir,” ujarnya, merujuk meningkatnya intervensi Israel sejak 7 Oktober 2023.

Mengutip Guardian, dalam beberapa bulan terakhir, aparat Israel dilaporkan meningkatkan penangkapan terhadap jamaah dan staf keagamaan di Kota Tua.

Polisi juga disebut melakukan penahanan di dalam kompleks masjid, bahkan saat waktu shalat berlangsung, serta membatasi akses warga Palestina.

Pada pagi hari Idul Fitri, sekitar pukul 06.00 waktu setempat, pasukan Israel memblokir jamaah yang hendak masuk melalui Gerbang Herod.

Aparat bahkan menggunakan granat kejut untuk membubarkan kerumunan. Sedikitnya tujuh warga Palestina ditahan dalam insiden tersebut.

Syekh Ekrima Sabri, khatib Masjid Al-Aqsa dan mantan mufti besar Yerusalem, mengeluarkan fatwa agar umat Islam melaksanakan shalat Id di titik terdekat yang bisa dijangkau dari masjid.

Namun, kehadiran militer yang masif di lorong-lorong Kota Tua membuat situasi tetap mencekam dan rawan bentrokan.

Tak hanya berdampak pada ibadah, penutupan juga menghantam ekonomi warga. Toko-toko di Kota Tua dilarang beroperasi, kecuali apotek dan penjual bahan makanan pokok.

Para pedagang mengaku kebijakan ini memperparah kesulitan ekonomi yang sudah mereka alami.

Sepinya Kota Tua pada hari raya sangat kontras dengan tahun-tahun sebelumnya yang biasanya dipadati warga.

Keheningan itu sempat pecah oleh suara ledakan besar akibat intersepsi rudal Iran oleh militer Israel.

Pecahan rudal dilaporkan jatuh di area parkir di kawasan Yahudi, sekitar 400 meter dari kompleks Al-Aqsa, tanpa korban jiwa.

Penutupan Masjid Al-Aqsa menuai kecaman luas dari dunia internasional.

Liga Arab menyebutnya sebagai “pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional” yang mengancam kebebasan beribadah dan berpotensi memicu ketegangan regional.

Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), Liga Arab, dan Komisi Uni Afrika dalam pernyataan bersama menegaskan bahwa langkah tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap status historis dan hukum tempat suci di Yerusalem.

Mereka juga menilai tindakan itu sebagai provokasi terhadap umat Muslim di seluruh dunia.

“Israel sebagai kekuatan pendudukan memikul tanggung jawab penuh atas konsekuensi dari tindakan ilegal dan provokatif ini,” bunyi pernyataan tersebut.

Khalil Assali dari Universitas Al-Quds menyebut penutupan Al-Aqsa sebagai bencana bagi rakyat Palestina.

“Ketika pemuda Palestina mencoba shalat di titik terdekat, mereka diusir bahkan saat sedang berdoa,” ujarnya.

Di Jalur Gaza, suasana Idul Fitri juga jauh dari kata meriah. Krisis kemanusiaan yang terus memburuk membuat perayaan berlangsung dalam bayang-bayang perang dan kehancuran.

Meski intensitas serangan sedikit menurun, pemboman Israel masih terjadi secara sporadis.

Ratusan ribu warga merayakan Idul Fitri di tengah puing-puing kota yang hancur.

Baca Juga:Pesan Idul Fitri Mahmoud Abbas: Harapan Kemerdekaan Palestina hingga Solidaritas untuk Negara Arab di Tengah Konflik

“Kebahagiaan Idul Fitri terasa tidak lengkap,” kata Sadeeqa Omar, seorang ibu dua anak yang mengungsi ke Deir al-Balah.

“Sebagian kehilangan rumah, sebagian kehilangan keluarga. Suami saya bahkan tidak bisa kembali ke Gaza karena perbatasan ditutup,” ujarnya.

Cerita serupa datang dari Alaa Al-Farra, warga Khan Younis.

“Idul Fitri tahun ini tidak jauh berbeda dari sebelumnya. Pergerakan kami masih sangat terbatas karena serangan udara yang bisa terjadi kapan saja,” katanya.

Di tengah keterbatasan, warga tetap berusaha menjaga tradisi.

Di kamp-kamp pengungsian, aroma kue khas seperti kaek dan maamoul masih tercium dari oven sederhana. Namun bagi banyak keluarga, makanan tersebut tetap sulit dijangkau.

Meski perlintasan Rafah sempat dibuka kembali untuk bantuan kemanusiaan, rasa aman belum sepenuhnya kembali.

“Masih ada ketakutan. Bahkan pekan lalu, wilayah dekat rumah kami dievakuasi menjelang serangan udara saat waktu berbuka puasa,” kata Kholoud Baba dari Gaza City.

Di balik perayaan yang redup, tersimpan duka mendalam: ibu-ibu yang kehilangan anak, keluarga yang tercerai-berai, dan generasi yang merayakan Idul Fitri hanya dengan kenangan.

 

Editor : Bahana.
#Perang Israel dan Iran #warga palestina #masjid al aqsa #Salat Id