LONDON, 20 Maret 2026 - Konflik Timur Tengah memanas! Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Belanda, dan Jepang secara bersama-sama mengecam Iran atas serangan terhadap kapal dagang dan infrastruktur sipil di Teluk Persia serta ancaman penutupan Selat Hormuz. Pelanggaran ini disebut melanggar Resolusi DK PBB 2817, sementara lalu lintas tanker minyak anjlok lebih dari 80%.
Ketegangan di kawasan Teluk Persia mencapai titik kritis setelah enam negara besar mengeluarkan pernyataan bersama yang sangat keras terhadap Iran.
Melalui akun resmi @10DowningStreet, Kantor Perdana Menteri Inggris mempublikasikan pernyataan bersama dari pemimpin Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Belanda, dan Jepang pada 19 Maret 2026. Mereka mengutuk keras serangan Iran terhadap kapal-kapal dagang tak bersenjata di Teluk, serangan ke infrastruktur sipil termasuk fasilitas minyak dan gas, serta penutupan de facto Selat Hormuz melalui penempatan ranjau laut dan ancaman langsung.
"Pernyataan bersama ini menegaskan bahwa tindakan Iran merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional, khususnya Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 2817 yang menuntut penghentian ancaman terhadap navigasi maritim di kawasan tersebut," bunyi pernyataan yang dirilis di platform X.
Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dunia, mengalami penurunan lalu lintas kapal tanker lebih dari 80% sejak eskalasi konflik Israel-Iran pada awal Maret 2026. Serangan balasan Iran dipicu setelah Israel melakukan serangan udara terhadap fasilitas minyak dan ladang gas South Pars di Iran, yang merupakan ladang gas terbesar di dunia.
Beberapa insiden terbaru meliputi:
Serangan terhadap setidaknya tiga kapal dagang (termasuk kapal berbendera Thailand yang terbakar),
Penempatan ranjau oleh kapal-kapal Iran (16 kapal penyebar ranjau dilaporkan dihancurkan oleh pasukan AS),
Ancaman langsung dari pemimpin Iran untuk menutup selat tersebut sebagai respons terhadap agresi militer.
Akibatnya, harga minyak Brent sempat melonjak di atas $100 per barel, memicu kekhawatiran global akan krisis energi. International Energy Agency bahkan merekomendasikan pelepasan cadangan minyak strategis terbesar dalam sejarah untuk menstabilkan pasar.
Reaksi di media sosial X pun beragam. Banyak pengguna menuding pernyataan tersebut bias karena tidak menyebut serangan awal Israel terhadap fasilitas energi Iran, sementara pendukung menyerukan tindakan lebih tegas dari sekutu untuk membuka kembali jalur pelayaran internasional.
Baca Juga: Tarif Tiket Bus AKAP di Kebumen Naik Dua Kali Lipat, Mayoritas untuk Arus Balik
Dampak bagi Indonesia sebagai salah satu importir minyak terbesar dunia diperkirakan signifikan. Kenaikan harga BBM dan gangguan rantai pasok energi global berpotensi menekan inflasi serta pertumbuhan ekonomi nasional dalam beberapa bulan ke depan.
Pemerintah Indonesia hingga kini belum memberikan pernyataan resmi terkait pernyataan bersama enam negara tersebut. Namun, Kementerian Luar Negeri RI terus memantau situasi demi melindungi kepentingan WNI dan stabilitas harga energi domestik. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin