TEHERAN, 17 Maret 2026 - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi Tegaskan Perang Harus Berakhir Permanen, Konflik AS-Iran Masuk Pekan Ketiga.
Di tengah eskalasi perang AS-Iran yang kini memasuki pekan ketiga, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan Teheran sama sekali tidak meminta gencatan senjata atau negosiasi dengan Amerika Serikat.
Pernyataan tegas ini disampaikan Araghchi dalam wawancara televisi negara Iran, yang kini viral di platform X (dulu Twitter).
Ketika ditanya wartawan mengapa Iran tidak meminta ceasefire dengan AS, Araghchi menjawab tegas:
“Karena kami ingin mengajarkan pelajaran yang begitu keras sehingga musuh tidak pernah terpikir lagi untuk menyerang Iran.”
Pernyataan ini langsung menjadi sorotan global setelah diunggah akun @BRICSinfo
pada 16 Maret 2026 malam waktu Indonesia Barat.
Video klip berdurasi sekitar 41 detik itu telah ditonton ratusan ribu kali dan memicu beragam reaksi di media sosial, mulai dari dukungan hingga sindiran terhadap posisi militer Iran yang saat ini berada di bawah tekanan besar serangan udara gabungan AS-Israel.
Latar Belakang Konflik
Perang dimulai pada 28 Februari 2026 ketika AS dan Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke berbagai target militer dan infrastruktur di Iran.
Serangan itu menewaskan sejumlah pejabat tinggi, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, dan memicu respons balasan Iran berupa rudal dan drone ke basis-basis AS di kawasan Timur Tengah serta Israel.
Hingga 17 Maret 2026, pertempuran masih berlangsung sengit.
AS dan Israel terus menargetkan fasilitas produksi rudal, pertahanan udara, dan zona industri Iran, sementara Iran melancarkan serangan balasan, termasuk ke wilayah Teluk Persia dan negara tetangga seperti Uni Emirat Arab (UAE).
Baca Juga: Catat! Ini 31 Titik Pelayanan PMI dan Ambulans di DIY selama Masa Mudik Lebaran 2026
Iran juga mengancam menutup Selat Hormuz bagi kapal-kapal AS, Israel, dan sekutunya.
Posisi Iran yang Keras
Araghchi menekankan bahwa perang ini harus berakhir secara permanen dengan cara yang membuat musuh “belajar dari pengalaman pahit”.
Ia menolak klaim Presiden AS Donald Trump bahwa Iran sedang mencari kesepakatan damai.
Menurutnya, pengalaman negosiasi sebelumnya berakhir dengan serangan, sehingga Teheran tidak melihat alasan untuk kembali berunding.
Pernyataan ini sejalan dengan sikap keras pemerintahan Iran pasca-serangan awal Februari.
Iran menyatakan siap melanjutkan pertahanan diri “selama yang diperlukan” demi melindungi kedaulatan dan rakyatnya.
Dampak Global & Relevansi bagi Indonesia
Konflik ini telah mendorong lonjakan harga minyak dunia, yang berpotensi memengaruhi harga BBM dan inflasi di Indonesia.
Selat Hormuz yang menjadi jalur vital 20-30 persen pasokan minyak global juga menjadi perhatian, karena gangguan di sana bisa berdampak langsung pada stabilitas ekonomi negara-negara Asia, termasuk Indonesia.
Isu ini mengingatkan pentingnya diplomasi dan stabilitas kawasan demi menjaga rantai pasok energi serta perdagangan internasional.
Reaksi di Media Sosial
Postingan BRICSinfo menuai ribuan like, repost, dan komentar.
Sebagian netizen memuji “aura” ketegasan Araghchi, sementara lainnya mempertanyakan realitas militer Iran yang sedang menghadapi serangan udara masif tanpa dukungan penuh sekutu.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanda-tanda de-eskalasi.
Baik Washington maupun Teheran tetap pada posisi masing-masing, sementara korban sipil dan militer terus bertambah di kedua belah pihak. (iwa)
(Sumber: Wawancara TV Iran, akun X @BRICSinfo, laporan Time, CBS News, Al Jazeera, dan sumber terverifikasi lainnya)
Editor : Iwa Ikhwanudin