Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Trump Ancam NATO: Bantu Buka Selat Hormuz atau Hadapi Masa Depan 'Sangat Buruk' di Tengah Perang Iran

Iwa Ikhwanudin • Selasa, 17 Maret 2026 | 04:48 WIB

Kanselir Jerman Friedrich Merz bahkan menyatakan Jerman tidak akan terlibat dalam konflik.
Kanselir Jerman Friedrich Merz bahkan menyatakan Jerman tidak akan terlibat dalam konflik.

WASHINGTON , 17 Maret 2026 – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengeluarkan peringatan keras kepada sekutu NATO.

Ia mengancam aliansi militer tersebut akan menghadapi masa depan “sangat buruk” jika negara-negara anggota tidak membantu AS mengamankan Selat Hormuz yang diblokade Iran sejak akhir Februari 2026.

Pernyataan Trump ini muncul di tengah eskalasi perang AS-Israel melawan Iran yang telah memasuki minggu ketiga.

Konflik tersebut telah menewaskan lebih dari 1.300 orang dan mendorong harga minyak dunia melambung di atas $100 per barel, memicu kekhawatiran krisis energi global.

Menurut laporan DW News, Trump menekankan bahwa negara-negara yang bergantung pada pasokan minyak melalui Selat Hormuz—termasuk Eropa dan China—seharusnya ikut bertanggung jawab menjaga jalur vital tersebut.

“Jika tidak ada respons atau responsnya negatif, ini akan sangat buruk bagi masa depan NATO,” ujar Trump dalam wawancara dengan Financial Times.

Namun, ancaman tersebut mendapat penolakan keras dari sekutu utama. Jerman, Inggris, dan Uni Eropa secara tegas menolak mengirim kapal perang ke wilayah konflik.

Mereka beralasan tidak ada mandat dari PBB maupun NATO, serta menilai perang ini sebagai operasi ofensif yang dipimpin AS-Israel, bukan ancaman kolektif terhadap aliansi.

Kanselir Jerman Friedrich Merz bahkan menyatakan Jerman tidak akan terlibat dalam konflik tersebut, menandai pergeseran sikap setelah sebelumnya menunjukkan sikap pengertian terhadap AS.

Sementara itu, Iran di bawah kepemimpinan baru (setelah kematian Pemimpin Tertinggi sebelumnya) bersikeras menjaga blokade Selat Hormuz terhadap kapal-kapal AS dan Israel, meski mengklaim jalur tersebut tetap terbuka bagi negara lain yang tidak terlibat.

Dampak regional semakin terasa. Bandara Internasional Dubai sempat menangguhkan penerbangan sementara akibat insiden drone di dekat landasan, menunjukkan konflik mulai meluas ke wilayah Teluk.

Badan Energi Internasional (IEA) telah melepas cadangan minyak darurat untuk meredam lonjakan harga, tetapi para analis memperingatkan gangguan pasokan bisa berlangsung berbulan-bulan jika blokade berlanjut.

Para pengamat geopolitik menilai ancaman Trump mencerminkan tekanan besar yang dihadapi AS dalam konflik ini. Banyak negara NATO lebih memprioritaskan ancaman di Eropa Timur dan Arktik ketimbang terlibat dalam perang Timur Tengah yang kontroversial.

Situasi Selat Hormuz—yang dilewati sekitar 20% minyak dunia—tetap menjadi titik kritis. Tanpa koalisi internasional yang kuat, risiko krisis energi global dan eskalasi militer semakin tinggi. (iwa) 

Editor : Iwa Ikhwanudin
#donald trump #Konflik Iran Amerika Serikat Israel #perang Iran AS Israel #perang iran #selat hormuz