TEHRAN – Dalam keputusan mengejutkan di tengah perang berkecamuk, Majelis Ahli Iran secara resmi menunjuk Mojtaba Khamenei, putra kedua almarhum Ayatollah Ali Khamenei, sebagai Pemimpin Tertinggi baru Republik Islam Iran.
Pengumuman ini disiarkan stasiun TV negara IRIB pada Senin pagi (9/3/2026), hanya sekitar 10 hari setelah ayahnya tewas dalam serangan udara gabungan AS-Israel pada 28 Februari 2026.
Mojtaba Khamenei, berusia 56 tahun, kini menjadi pemimpin ketiga Iran sejak revolusi 1979—menggantikan ayahnya yang memimpin selama 37 tahun.
Majelis Ahli menyatakan pemilihan dilakukan melalui “suara bulat” di tengah serangan udara yang masih berlanjut terhadap fasilitas militer dan infrastruktur Iran.
Ayatollah Ali Khamenei tewas di kompleksnya di Tehran pada hari pertama operasi militer besar-besaran AS-Israel, yang menargetkan situs nuklir, pangkalan IRGC, dan pejabat tinggi.
Kematiannya memicu gelombang rudal balasan Iran ke Israel dan negara Teluk, serta eskalasi konflik regional yang belum mereda.
Mojtaba, yang selama ini dikenal sebagai figur rahasia dengan ikatan kuat ke Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), diharapkan melanjutkan garis keras ayahnya.
Beberapa analis menyebut penunjukan ini sebagai sinyal kuat bahwa rezim tidak akan mundur, meski di bawah tekanan militer berat.
Presiden AS Donald Trump disebut “tidak senang” dengan pilihan ini dan menyatakan akan melanjutkan serangan.
Di Iran, pendukung pemerintah menggelar demonstrasi besar di Tehran dan kota-kota lain menyambut pemimpin baru, sementara sebagian warga menyuarakan ketidakpuasan dengan slogan anti-dinasti.
Perang yang dimulai dengan pembunuhan Khamenei senior kini memasuki fase baru di bawah kepemimpinan putranya.
Dampak global terasa: harga minyak melonjak tajam, ketegangan di Timur Tengah meningkat, dan risiko konflik lebih luas mengancam stabilitas energi dunia.
Indonesia, sebagai importir minyak utama, perlu waspada terhadap gejolak harga BBM dan inflasi akibat krisis ini.
Pantau terus perkembangan perang AS-Israel-Iran—kepemimpinan Mojtaba Khamenei bisa menentukan arah masa depan kawasan. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin