IRAN – Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak mentah dan gas alam dunia, kini nyaris berhenti total.
Data intelijen maritim terbaru menunjukkan lalu lintas kapal tanker minyak anjlok hingga 90% sejak pecahnya konflik antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran akhir Februari 2026.
Menurut firma intelijen energi Kpler, transaksi tanker melalui selat sempit antara Iran dan Oman turun drastis dari puluhan kapal per hari menjadi hanya segelintir atau bahkan nol di beberapa hari.
Reuters melaporkan lalu lintas tanker mencapai nol pada awal Maret 2026, dibandingkan 37 kapal pada 27 Februari—sehari sebelum serangan pertama AS-Israel ke Iran.
Iran menyatakan mengendalikan selat tersebut dan mengancam menyerang kapal yang mencoba melintas, sementara AS menyatakan siap mengawal tanker dengan angkatan laut jika diperlukan.
Akibatnya, ratusan kapal tanker dan kargo terjebak di luar selat, menunggu situasi aman atau mencari rute alternatif.
Dampaknya langsung terasa global: harga minyak mentah melonjak lebih dari 10%, gas alam di Eropa dan Asia meroket, dan harga BBM di berbagai negara naik signifikan.
Indonesia, sebagai importir minyak bersih, berpotensi terdampak melalui kenaikan harga energi dan inflasi.
Analis maritim menyebut penurunan ini bukan penutupan resmi total, melainkan akibat kepanikan pelaku industri: ancaman serangan, penarikan asuransi risiko perang, dan keengganan perusahaan pelayaran mengambil risiko tinggi.
Beberapa kapal masih nekat melintas dengan mematikan sistem pelacakan AIS, tapi volume tetap minim.
Konflik ini menjadikan Selat Hormuz sebagai titik panas terbesar saat ini, mengancam rantai pasok energi dunia.
Presiden AS Donald Trump menyatakan angkatan laut AS siap mengawal tanker, sementara Iran bersikukuh mempertahankan kendali.
Situasi ini menjadi pengingat betapa rapuhnya ketahanan energi global.
Pantau terus perkembangan, karena eskalasi lebih lanjut bisa memicu krisis energi terburuk dalam dekade terakhir. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin