KEBUMEN - Biro perjalanan haji dan umrah ikut kelimpungan atas terjadinya konflik Iran dan Amerika Serikat-Israel. Ketegangan antar negara tersebut memaksa biro harus menanggung risiko rugi hingga ratusan juta rupiah.
Pemilik Travel Haji dan Umrah asal Kebumen Yulianto menyampaikan, situasi geopolitik yang sedang berkecamuk di kawasan Timur Tengah berdampak langsung ke penyelenggara perjalanan haji dan umrah.
Selain khawatir akan keamanan jemaah, biro juga menghadapi ancaman rugi besar. Kondisi ini akibat masih ada sebagian jemaah tertahan di tanah suci.
Secara otomatis biro atau travel harus menanggung seluruh kebutuhan akomodasi jemaah, mulai dari penginapan hingga permakanan.
"Per hari buat biaya hotel saja rata-rata Rp 30 juta. Kalau dihitung dari 28 Februari, tinggal kalikan saja," ungkapnya kepada Radar Jogja, Selasa (3/3).
Belum lagi biro travel juga rugi karena harus menunda keberangkatan jemaah seiring diberlakukan pembatasan penerbangan. Padahal biaya seperti tiket pesawat, visa, penginapan dan kebutuhan umum lain kini sudah terbayarkan.
"Saya pikir ini dirasakan semua pengusaha travel haji dan umrah," ucapnya.
Dia menyebut, sejak konflik Iran dan AS-Israel pecah, jemaah umrah yang berangkat dan masih tertahan di tanah suci terdapat 20 orang. Sedangkan untuk jemaah yang sedianya berangkat periode 3-4 Februari 206 sebanyak 94 orang.
Menurutnya jumlah tersebut bukan angka sedikit, mengingat Bulan Ramadan merupakan salah satu waktu favorit masyarakat untuk menjalankan umrah.
"Artinya sekarang harus mengeluarkan uang ekstra buat stay tambahan," jelas Yulianto.
Dia menyatakan, terjadinya perang belakangan ini menjadi pukulan telak bagi para pengusaha biro perjalanan haji dan umrah. Kondisi ini dirasakan hampir sama ketika pandemi maupun saat kisruh masalah haji di tanah air.
Pria asal Ambal itu juga belum mengetahui pasti kebijakan soal keberangkatan maupun kepulangan jemaah umrah. "Batas waktu sampai berapa hari?belum tahu," tegasnya.
Sementara itu, Plt Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Kebumen Suwaibatul Aslamiyah mengimbau kepada jemaah maupun keluarga jemaah umrah tetap tenang seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Ia mengungkapkan saat ini pemerintah bersama otoritas terkait terus memantau perkembangan terakhir untuk memastikan keselamatan dan kenyamanan jemaah. "Koordinasi terus dilakukan demi keselamatan jemaah di sana," terangnya.
Suwaibatul mengatakan, sejumlah penerbangan menuju maupun dari Arab Saudi berpotensi mengalami penjadwalan ulang bahkan pembatalan. Namun begitu, ia memastikan negara hadir untuk memberikan perlindungan dengan melakukan penanganan secara terukur kepada para jemaah.
Upaya yang telah dilakukan pemerintah salah satunya membuka layanan pengaduan di berbagai negara terdampak konflik di kawasan Timur Tengah.
"Sekarang sudah ada hotline, apabila mau tanya atau lapor keluarganya dalam kondisi darurat," jelasnya. (fid/pra)
Editor : Heru Pratomo