Selat Hormuz merupakan salah satu jalur transit energi tersibuk di dunia, dengan sekitar 20% pasokan gas alam cair atau Liquefied Natural Gas (LNG) global melewati kawasan tersebut.
Menurut Igor Yushkov, seorang pakar energi terkemuka Rusia, gangguan aliran LNG melalui Selat Hormuz dapat mendorong harga gas mengungguli lonjakan komoditas energi lain.
“Qatar adalah salah satu produsen LNG terbesar di dunia, kedua setelah Australia dan AS. Jika terjadi kekurangan LNG di pasar globa. Harga tukar bisa dengan mudah melebihi $1.000 atau bahkan $1.500. Kita telah melihat harga serupa di Eropa bahkan tanpa kekurangan seperti itu. Jadi harganya bisa meroket,” ungkap Yushkov, dikutip dari Sputnik.
Yushkov menekankan bahwa lamanya ketegangan di Selat Hormuz akan sangat menentukan besaran efeknya terhadap harga gas dunia.
“Semua akan bergantung pada seberapa lama ketegangan di Selat Hormuz berlangsung,” imbuhnya.
Selain itu, ia memperingatkan dampak lanjutan seperti kenaikan biaya asuransi kapal, biaya pengiriman, serta tekanan musim dingin yang masih berlangsung di belahan bumi utara.
Faktor-faktor ini akan semakin memperparah lonjakan harga gas di pasar global.
Yushkov juga menyoroti dampak terhadap pasar LNG di Asia, yang menjadi tujuan utama ekspor Qatar, serta kemungkinan berhentinya produksi jika selat tetap tak bisa diakses.
“Meskipun gas Qatar secara fisik sebagian besar diekspor ke pasar Asia, harga tukar akan naik di mana-mana. Oleh karena itu, jika tidak mampu mengekspor LNG, Qatar terpaksa harus menghentikan produksi,” ujarnya.
Penulis: Ferry Aditya
Editor : Bahana.