Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Iran Tutup Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Bisa Tembus Rp 30 Ribu per Liter? Dampaknya ke Indonesia Sangat Besar

Iwa Ikhwanudin • Senin, 2 Maret 2026 | 14:02 WIB

Selat Hormus.
Selat Hormus.

TEHERAN - Iran resmi ganggu lalu lintas Selat Hormuz pasca serangan AS-Israel.

Harga minyak dunia melonjak tajam, BBM subsidi Indonesia terancam naik, inflasi mengintai.

Begini dampak lengkapnya bagi ekonomi RI.

Eskalasi konflik Timur Tengah mencapai titik kritis.

Iran melalui Garda Revolusi (IRGC) secara de facto menutup Selat Hormuz setelah serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel akhir pekan lalu.

Jalur laut vital ini mengangkut sekitar 20% pasokan minyak dunia atau setara 17–21 juta barel per hari.

Sebuah video analisis yang viral di X (dulu Twitter) dari akun @narkosun menunjukkan simulasi mengerikan jika penutupan berlangsung lama:

harga minyak dunia berpotensi melonjak ke US$100–150 per barel (sekitar Rp 1,5–2,3 juta per barel), memicu krisis energi global mirip guncangan 1970-an.

Apa Dampak Langsung ke Indonesia?

Indonesia sebagai negara net importir minyak (sekitar 60–70% kebutuhan dari impor) akan terpukul keras.

Berikut rinciannya:

Harga BBM melonjak drastis

Pertamina dan pemerintah kemungkinan besar terpaksa menyesuaikan harga BBM nonsubsidi dalam waktu dekat.

Jika harga minyak bertahan di atas US$100, harga Pertalite bisa menembus Rp 15.000–Rp 18.000 per liter, bahkan Solar subsidi ikut terdampak melalui tekanan APBN.

Inflasi dan biaya hidup meningkat

Transportasi, logistik, hingga bahan pangan akan naik karena ongkos angkut membengkak.

Ekonom memperkirakan inflasi bisa tembus 6–8% jika gangguan berlangsung lebih dari 1–2 bulan.

Tekanan APBN & subsidi energi

Beban subsidi BBM dan listrik bisa membengkak hingga puluhan triliun rupiah.

Pemerintah mungkin harus memangkas anggaran lain atau mencari sumber pendapatan baru.

Industri terdampak parah

Sektor manufaktur, petrokimia, dan transportasi (terutama angkutan umum & logistik) akan menghadapi biaya operasional yang melonjak tajam.

Menurut analis energi seperti Wood Mackenzie dan CNBC, penutupan penuh Selat Hormuz bisa memicu krisis energi global tiga kali lebih parah dibanding embargo minyak Arab 1973.

Saat ini lalu lintas tanker sudah turun drastis hingga 70%, meski belum sepenuhnya terblokir, kapal dari China dan Iran masih melintas terbatas.

Mengapa Iran Ambil Langkah Ini?

Langkah Iran disebut sebagai respons balasan atas serangan udara AS-Israel yang menargetkan fasilitas militer dan infrastruktur strategis.

Meski Iran sendiri juga rugi karena ekspor minyaknya terganggu, Teheran menilai penutupan ini sebagai senjata ekonomi untuk menekan Barat dan sekutunya.

Namun analis internasional menilai penutupan total berkepanjangan sulit dipertahankan karena risiko serangan balik dari armada AS dan kerugian besar bagi sekutu seperti China (impor minyak Gulf mencapai 5 juta barel/hari).

Apa yang Bisa Dilakukan Indonesia?

Pemerintah melalui Kementerian ESDM dan Pertamina disebut sedang memantau ketat.

Beberapa opsi yang mungkin:

Meningkatkan stok cadangan minyak nasional
Mempercepat diversifikasi sumber impor (misalnya dari Rusia, AS, atau Afrika)
Mengoptimalkan produksi domestik Blok Cepu, Rokan, dan lainnya

Warga diimbau tidak panic buying BBM sambil menunggu pengumuman resmi dari pemerintah terkait penyesuaian harga. (iwa)

 

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Selat Hormuz ditutup #harga minyak dunia hari ini #krisis energi Timur Tengah #ekonomi Indonesia terdampak konflik Iran AS Israel #harga BBM naik 2026 #dampak Iran tutup Selat Hormuz ke Indonesia