Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kematian Ayatollah Ali Khamenei di Serangan Gabungan AS-Israel Picu Duka Nasional Iran, Ribuan Berduka di Makam Imam Reza Mashhad

Iwa Ikhwanudin • Senin, 2 Maret 2026 | 06:26 WIB

suasana duka di Makam Imam Reza di Mashhad – salah satu situs suci terpenting bagi umat Syiah.
suasana duka di Makam Imam Reza di Mashhad – salah satu situs suci terpenting bagi umat Syiah.

TEHERAN/MASHHAD – Dunia Islam dan Timur Tengah diguncang berita duka besar setelah Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran selama 36 tahun, gugur sebagai syahid dalam serangan rudal gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026.

Kematian pemimpin berusia 86 tahun itu dikonfirmasi resmi oleh media negara Iran pada 1 Maret 2026, memicu gelombang duka cita sekaligus ketegangan regional yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Sebuah unggahan viral di platform X (dulunya Twitter) dari akun @alahvazii, seorang warga asal Ahvaz, Provinsi Khuzestan, Iran, menjadi salah satu sorotan publik internasional.

Dalam postingan tersebut, pengguna menyampaikan ucapan belasungkawa secara sarkastis namun dalam bahasa yang selaras dengan narasi resmi rezim:

“اتقدم بالتعازي الى كل أحرار العالم في استشهاد القائد الامام السيد علي الخامنئي”

(Saya menyampaikan belasungkawa kepada seluruh orang-orang merdeka di dunia atas kesyahidan Pemimpin Imam Sayyid Ali Khamenei)

Unggahan itu dilengkapi video berdurasi sekitar 14 detik yang menampilkan suasana duka di Makam Imam Reza di Mashhad – salah satu situs suci terpenting bagi umat Syiah.

Tampak beberapa peti mati yang dibalut bendera Iran dengan potret besar Ayatollah Khamenei diletakkan di area penerangan malam hari yang megah, dikelilingi ribuan pelayat yang menangis dan berdoa.

Iran telah menetapkan 40 hari berkabung nasional serta libur umum selama tujuh hari menyusul kejadian tersebut.

Pemerintah menyatakan serangan itu sebagai “kejahatan besar” dan “pelanggaran kedaulatan” yang dilakukan Washington dan Tel Aviv.

Sementara itu, di berbagai kota besar seperti Teheran, Isfahan, dan Mashhad, ribuan warga berkumpul untuk salat jenazah dan menggelar demonstrasi massa.

Bendera hitam berkabung dikibarkan di atas makam Imam Reza, sementara pelayat mengibarkan foto-foto almarhum Pemimpin Tertinggi.

Baca Juga: Sinau Sejarah, 1 Maret Hari Penegakan Kedaulatan Negara: Warisi Karakter Jogja, Anak Muda Jeli dan Berani Ambil Keputusan

Namun, kematian Khamenei juga memicu reaksi beragam di dalam negeri.

Sejumlah laporan menyebut adanya perayaan diam-diam di beberapa wilayah, bahkan ada warga yang menurunkan monumen pendiri Republik Islam.

Situasi ini mencerminkan polarisasi mendalam masyarakat Iran pasca lebih dari tiga dekade kepemimpinan Khamenei.

Konflik masih berlanjut dengan serangan balasan Iran ke Israel dan Irak, termasuk peluncuran rudal serta serangan drone yang menyasar pangkalan militer.

Pemimpin spiritual Syiah terkemuka telah mengeluarkan fatwa jihad melawan AS dan Israel sebagai balasan atas “darah syahid” Khamenei.

Peristiwa ini diyakini menjadi titik balik terbesar bagi Republik Islam sejak Revolusi 1979, dengan pertarungan suksesi kepemimpinan yang kini menjadi sorotan utama dunia. (iwa) 

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Ayatollah Ali Khamenei tewas #Ali Khamenei gugur #Ali Khamenei syahid