RADAR JOGJA – Sebuah ledakan sejarah mengguncang Timur Tengah dan dunia internasional: Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran yang legendaris, telah gugur syahid pada Sabtu (28/2/2026) malam waktu setempat.
Kematian sang ayatollah berusia 86 tahun ini dikonfirmasi secara resmi oleh media pemerintah Iran seperti Tasnim, Fars News, IRNA, dan stasiun televisi negara, setelah serangan udara masif gabungan Amerika Serikat dan Israel menghantam jantung kekuasaan di Teheran.
Serangan dahsyat itu menargetkan kompleks kediaman resmi Khamenei di Teheran, markas Garda Revolusi, dan situs-situs strategis lainnya.
Puluhan bom presisi diproyeksikan menghancurkan bangunan utama, meninggalkan puing-puing berasap hitam membumbung ke langit malam.
Pejabat Israel mengonfirmasi jenazah Khamenei ditemukan di antara reruntuhan, sementara laporan menyebutkan beberapa anggota keluarga dekat—termasuk putri, menantu, dan cucu—juga menjadi korban dalam serangan mematikan tersebut.
Presiden AS Donald Trump langsung mengumumkan kabar ini melalui Truth Social dengan nada penuh kemenangan:
"Khamenei, salah satu orang paling jahat dalam sejarah, telah tewas. Ini adalah keadilan bagi rakyat Iran yang tertindas, bagi Amerika yang hebat, dan bagi dunia yang selama ini menderita teror rezim ini. Operasi Epic Fury akan berlanjut dengan pemboman berat dan tepat sasaran sepanjang minggu ini. God bless America and Israel!"
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan, "Tiran ini telah tiada. Ini adalah momen bagi rakyat Iran untuk bangkit dan menggulingkan rezim yang menindas selama hampir setengah abad."
Iran merespons dengan duka mendalam sekaligus amarah membara.
Pemerintah mengumumkan 40 hari berkabung nasional yang penuh khidmat, disertai 7 hari libur nasional di seluruh negeri.
Ribuan warga berbondong-bondong ke jalanan Teheran, Qom, dan Mashhad, menggelar salat jenazah massal sambil meneriakkan slogan "Kematian bagi Amerika" dan "Kematian bagi Israel".
Suasana chaos menyelimuti ibu kota: jalanan dipenuhi demonstrasi, sirene meraung, dan asap masih mengepul dari lokasi serangan.
Kekosongan kekuasaan kini menjadi momok terbesar.
Belum ada pengumuman resmi mengenai penerus Khamenei, yang selama 36 tahun lebih memimpin dengan tangan besi atas Republik Islam Iran.
Para pengamat khawatir hal ini bisa memicu perang saudara, perebutan kekuasaan di kalangan ulama garis keras, atau bahkan keruntuhan rezim yang telah bertahan sejak Revolusi Islam 1979.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan rentetan rudal balistik dan drone kamikaze ke Israel serta basis militer AS di Irak, Suriah, dan negara-negara Teluk.
Ledakan demi ledakan menggema di kawasan, menandai eskalasi perang terbuka yang berpotensi menyeret seluruh Timur Tengah ke dalam jurang kehancuran.
Apakah ini akhir dari era Khamenei, atau awal dari badai yang lebih besar? (iwa)
(Sumber: Tasnim News, Fars News, IRNA, Reuters, CNN, BBC, AP, Al Jazeera, pernyataan resmi pemerintah Iran, AS, dan Israel – 1 Maret 2026)
Editor : Iwa Ikhwanudin