RADAR JOGJA - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencana penutupan sementara John F Kennedy Memorial Center for the Performing Arts atau Kennedy Center selama kurang lebih dua tahun.
Penutupan dijadwalkan mulai 4 Juli 2026, bertepatan dengan peringatan 250 tahun Hari Kemerdekaan Amerika Serikat.
Pengumuman tersebut disampaikan Trump pada Minggu (1/2/2026) melalui platform Truth Social.
Ia menyebut penutupan diperlukan untuk mempercepat proses renovasi besar-besaran terhadap pusat seni yang berada di Washington DC itu.
“Saya telah menentukan bahwa cara tercepat untuk membawa Trump Kennedy Center ke tingkat kesuksesan, keindahan, dan kemegahan tertinggi adalah dengan menghentikan seluruh operasi hiburan selama sekitar dua tahun,” tulis Trump.
"Penutupan sementara ini akan menghasilkan hasil yang jauh lebih cepat dan berkualitas tinggi,” tambahnya.
Trump menjelaskan, berbagai agenda seni seperti konser, opera, musikal, balet, hingga seni interaktif dinilai justru menghambat proses konstruksi dan revitalisasi.
Karena itu, menurutnya, penutupan total menjadi langkah yang tidak terhindarkan.
Keputusan ini masih menunggu persetujuan dewan pengurus Kennedy Center, yang mayoritas anggotanya ditunjuk langsung oleh Trump sejak ia menjabat sebagai ketua dewan.
Presiden AS itu juga menyebut renovasi akan bersifat menyeluruh.
“Trump Kennedy Center, jika ditutup sementara untuk konstruksi, revitalisasi, dan pembangunan ulang secara lengkap, dapat menjadi fasilitas seni pertunjukan terbaik di dunia,” ujarnya.
“Amerika akan sangat bangga dengan landmark baru yang indah ini untuk generasi mendatang.”
Namun, rencana tersebut muncul di tengah gelombang penolakan dari kalangan seniman.
Sejumlah pengisi acara ternama telah membatalkan penampilan mereka sejak perubahan kepemimpinan dan penambahan nama Trump pada institusi yang sebelumnya dikenal non-partisan itu.
Musikal peraih penghargaan Hamilton, soprano internasional Renée Fleming, hingga komposer Philip Glass menarik diri sebagai bentuk protes.
Washington National Opera bahkan memutuskan hengkang dari Kennedy Center, yang selama ini menjadi markas mereka sejak dibuka pada 1971.
Philip Glass dalam pernyataannya menyebut nilai-nilai Kennedy Center saat ini “berada dalam konflik langsung” dengan pesan karya yang akan ia tampilkan.
Sementara Trump sebelumnya mengkritik sejumlah program di pusat seni tersebut sebagai terlalu “woke”.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pihak manajemen Kennedy Center terkait penutupan ini.
Kompleks tersebut awalnya dibangun sebagai pusat kebudayaan nasional dan kemudian ditetapkan oleh Kongres sebagai “monumen hidup” untuk mengenang Presiden John F Kennedy setelah pembunuhannya pada 1963.
Kritik juga datang dari keluarga Kennedy.
Maria Shriver, keponakan mendiang JFK, menyindir kebijakan tersebut melalui unggahan di media sosial X tanpa menyebut nama Trump.
Ia menyebut penutupan dan renovasi itu terkesan sebagai pengalihan isu karena “tidak ada lagi yang ingin tampil di sana”.
Penutupan Kennedy Center menjadi bagian dari langkah Trump yang lebih luas dalam membentuk ulang institusi sejarah dan budaya Amerika.
Baca Juga: Boikot FIFA World Cup 2026: Dilema Antara Risiko Keamanan dan Kerugian Finansial
Sebelumnya, ia juga mendorong proyek renovasi besar Gedung Putih, pembangunan ballroom bernilai ratusan juta dolar, serta sejumlah rencana ambisius lain yang menuai kontroversi.
Bagi publik dan komunitas seni, penutupan Kennedy Center bukan sekadar proyek renovasi fisik, melainkan simbol tarik-ulur antara kekuasaan politik dan independensi ruang budaya di Amerika Serikat. (Raka Adichandra)
Editor : Meitika Candra Lantiva