Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Trump Kirim Armada ke Dekat Iran, Peringatkan Hal Buruk Jika Dialog Nuklir Gagal

Magang Radar Jogja • Selasa, 3 Februari 2026 | 13:45 WIB
Trump peringatkan tegas kepada Iran.
Trump peringatkan tegas kepada Iran.

RADAR JOGJA - Amerika Serikat dan Iran kembali membuka jalur diplomasi nuklir di tengah meningkatnya ketegangan militer.

Presiden AS Donald Trump memperingatkan bahwa hal-hal buruk bisa terjadi jika perundingan gagal, seiring pengerahan armada kapal perang AS ke kawasan dekat Iran.

Melansir Reuters Pejabat AS dan Iran menyatakan bahwa perundingan akan digelar pada Jumat mendatang di Istanbul, Turki.

Utusan khusus AS Steve Witkoff dijadwalkan bertemu Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi untuk membahas masa depan program nuklir Teheran, yang selama bertahun-tahun menjadi sumber ketegangan antara kedua negara.

Trump menegaskan bahwa langkah diplomasi itu berjalan bersamaan dengan tekanan militer.

“Kami punya kapal-kapal yang sedang menuju ke Iran sekarang, kapal besar, yang terbesar dan terbaik. Kami juga sedang berbicara dengan Iran, dan kita lihat bagaimana hasilnya,” ujar Trump kepada wartawan di Ruang Oval, Senin (2/2/2026).

“Kalau bisa tercapai kesepakatan, itu bagus. Kalau tidak, kemungkinan hal-hal buruk akan terjadi,” lanjutnya.

Pernyataan tersebut muncul di tengah pengerahan kelompok tempur laut AS yang dipimpin kapal induk USS Abraham Lincoln ke perairan dekat Iran.

Langkah ini memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik terbuka di kawasan yang selama ini rawan gesekan geopolitik.

Menurut sejumlah diplomat regional, pertemuan di Istanbul tidak hanya melibatkan Washington dan Teheran.

Perwakilan dari negara-negara Timur Tengah seperti Qatar, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Mesir disebut akan hadir dalam berbagai format pertemuan bilateral maupun multilateral.

Turki bertindak sebagai tuan rumah sekaligus mediator yang mendorong penurunan eskalasi.

Seorang pejabat Turki dari partai berkuasa mengatakan kepada Reuters bahwa kedua pihak telah sepakat untuk kembali memprioritaskan jalur diplomasi.

Sumber-sumber Reuters menyebut Trump mengajukan tiga tuntutan utama sebagai syarat pembaruan kesepakatan.

Tiga tuntunan tersebut meliputi penghentian total pengayaan uranium di Iran, pembatasan program rudal balistik, serta penghentian dukungan Iran terhadap kelompok-kelompok sekutu di kawasan timur tengah.

Tuntutan tersebut selama ini ditolak Teheran karena dianggap melanggar kedaulatan nasional.

Namun, sinyal kehati-hatian juga muncul dari pihak Iran.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan Teheran tengah mempertimbangkan berbagai dimensi dan aspek pembicaraan.

Ia menekankan bahwa waktu menjadi faktor krusial bagi Iran, terutama terkait harapan pencabutan sanksi ekonomi.

“Iran ingin pencabutan sanksi yang tidak adil secepat mungkin,” ujarnya.

Mengutip Media AS The New York Times, dua pejabat regional menyebut Iran memberi sinyal kesiapan untuk menghentikan atau menangguhkan sebagian aktivitas nuklirnya.

Di sisi lain, Trump mengaku belum yakin kesepakatan bisa tercapai.

“Saya ingin melihat kesepakatan dinegosiasikan. Tapi saya tidak tahu apakah itu akan terjadi,” katanya.

Meski begitu, Trump menyebut Iran saat ini serius berbicara dengan Washington.

Upaya diplomasi ini berlangsung di tengah tekanan domestik yang berat di Iran.

Ketegangan meningkat sejak penumpasan demonstrasi anti-pemerintah bulan lalu, yang disebut sebagai yang paling berdarah sejak Revolusi Islam 1979.

Kondisi tersebut menambah kompleksitas perundingan, karena setiap langkah Iran dalam isu nuklir juga berpotensi berdampak pada stabilitas politik dalam negeri.

Bagi kawasan Timur Tengah, hasil perundingan ini menjadi krusial.

Kegagalan dialog berisiko memicu konfrontasi militer yang melibatkan banyak negara, sementara keberhasilan kesepakatan bisa meredakan ketegangan dan membuka kembali jalur diplomasi yang sempat buntu.

Dengan armada perang AS sudah berada di kawasan dan meja perundingan disiapkan di Istanbul, dunia kini menunggu apakah ancaman akan berubah menjadi konflik, atau justru menjadi kesepakatan. (Raka Adichandra)

 

Editor : Meitika Candra Lantiva
#donald trump #trump #Amerika Serikat