Tidak seperti namanya, Greenland merupakan pulau es raksasa karena sebagian besar wilayahnya ditutupi es hingga 80 persen.
Meskipun menjadi pulau terbesar di dunia, Greenland memiliki jumlah penduduk yang jarang, yakni hanya sekitar 56.000 orang. Mayoritas penduduk Greenland merupakan Suku Inuit dan sebagian campuran Inuit-Denmark.
Wilayah otonom yang dibawahi Kerajaan Denmark sejak tahun 1953 tersebut terkenal dengan keindahan alamnya, seperti Gletser, Fjord, dan Aurora Borealis.
Baru-baru ini, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald John Trump menyatakan keinginannya untuk menguasai Greenland. Sebenarnya, pemerintah AS sudah sejak lama memiliki kepentingan keamanan di Greenland.
Pada Perang Dunia (PD) 2, AS menginvasi Greenland dan mendirikan pangkalan militer di sana. Kemudian, pada tahun 1951, AS menandatangani perjanjian dengan Denmark yang menyepakati bahwa AS memiliki hak untuk mendirikan dan memelihara pangkalan militernya di Greenland yang saat ini bernama Pangkalan Luar Angkasa Pituffik.
Trump mengklaim bahwa Greenland merupakan wilayah yang strategis dan penting bagi keamanan nasional AS. Trump dapat dikatakan sudah mengincar wilayah tersebut sejak tahun 2019.
Saat itu, Trump mengajukan proposal kepada Kerajaan Denmark untuk membeli Greenland, namun ditolak. Melansir dari Narasi News Room, usai kembali terpilih sebagai Presiden AS di tahun 2024, Trump menyatakan keinginannya untuk mengambil alih Greenland melalui Truth Social.
“Demi keamanan nasional, AS merasa bahwa kepemilikan atas Greenland itu mutlak,” tulis Trump.
Kemudian, pada 28 Maret 2025, Wakil Presiden AS James David (JD) Vance datang ke Pangkalan Luar Angkasa Pituffik dan mengatakan bahwa Greenland tidak dapat menjaga keamanannya dari Rusia dan Cina dengan baik.
Pada awal tahun 2026, Trump kembali menyatakan keinginannya untuk mengambil alih Greenland bahkan memberikan opsi serangan militer.
Setelah melakukan operasi militer di Venezuela, tepatnya pada Senin (5/1) Trump menyampaikan kepada wartawan di Pesawat Air Force One bahwa AS membutuhkan Greenland karena alasan keamanan nasional AS.
“Kita membutuhkan Greenland dari sudut pandang keamanan nasional. Ini sangat strategis. Saat ini Greenland dipenuhi kapal-kapal Rusia dan Cina di mana-mana. Kita membutuhkan Greenland dari sudut keamanan nasional dan Denmark tidak akan mampu melakukannya, saya bisa pastikan itu,” kata Trump kepada wartawan.
Hal tersebut direspons Perdana Menteri (PM) Denmark Mette Frederiksen.
Ia mengkritik upaya AS tersebut sebagai tekanan yang tidak dapat diterima.
Melansir dari The Guardian, Frederiksen menyatakan bahwa jika AS menyerang Greenland, maka eksistensi Organisasi Perjanjian Atlantik Utara atau North Atlantic Treaty Organization (NATO) akan berakhir.
“Jika AS memutuskan untuk menyerang negara NATO lain secara militer, maka semuanya akan berhenti, termasuk NATO dan sistem keamanan yang sudah dibentuk pasca PD 2,” ujarnya kepada wartawan Television (TV) 2 pada Selasa (6/1).
Melansir dari American Broadcasting Company (ABC) News, upaya AS untuk menguasai Greenland juga direspons oleh PM Greenland Múte Bourup Egede.
Ia mengkritik upaya tersebut dengan mengecam bahwa Greenland tidak untuk dijual.
"Greenland adalah milik rakyat Greenland. Kami bukan orang Amerika, kami bukan orang Denmark karena kami adalah orang Greenland. Inilah yang perlu dipahami oleh orang Amerika dan para pemimpin mereka, kami tidak bisa dibeli dan kami tidak bisa diabaikan," tulis Egede melalui unggahannya di Facebook.
Selain itu, Egede juga menekankan bahwa masa depan Greenland berada di tangan warganya sendiri.
“Masa depan negara ini tentu akan ditentukan oleh kita di negara kita sendiri, Greenland adalah milik kita. Kita tidak ingin menjadi orang Amerika, juga bukan orang Denmark, kita adalah orang Kalaallit. Orang Amerika dan para pemimpin mereka harus memahami hal itu," tulis Egede.
Keamanan nasional bukan satu-satunya faktor yang membuat AS berupaya untuk menguasai Greenland.
Upaya AS tersebut juga dipengaruhi faktor-faktor lainnya, seperti cadangan sumber daya alam (SDA) yang melimpah dan pembukaan jalur perdagangan yang baru.
Penulis: Salwa Hunafa
Editor : Bahana.