RADAR JOGJA - Langit Caracas yang biasanya tenang mendadak berubah mencekam pada Sabtu pagi (3/1/2026).
Saat itu rentetan ledakan dan manuver rendah pesawat tempur memecah kesunyian ibu kota.
Misteri di balik kepanikan warga terjawab beberapa jam kemudian.
Dari ribuan mil di Florida, Presiden Donald Trump mendeklarasikan keberhasilan operasi militer AS yang tidak hanya menggempur Venezuela.
Hal ini mencatatkan sejarah baru penangkapan dan ekstradisi paksa Presiden Nicolas Maduro oleh US Army.
Unggahan di platform Truth Social bukan sekadar pengumuman, melainkan justifikasi akhir atas sikap keras AS yang memandang pemerintahan Nicolas Maduro, Presiden Venezuela sebagai entitas ilegal.
Washington merasionalisasi operasi militer ini sebagai langkah tak terelakkan demi memutus rantai perdagangan narkoba, mengontrol arus migrasi perbatasan, dan memitigasi ancaman langsung terhadap kedaulatan keamanan Amerika Serikat.
Dibalik serangan AS terhadap Venezuela
Alasan pertama yang dinyatakan pemerintahan Trump adalah masalah migrasi dan terorisme narkoba.
Trump secara konsisten menarik garis lurus antara krisis di Venezuela dengan lonjakan migran di perbatasan selatan AS.
Narasi Trump tentang ancaman perbatasan tak lepas dari gelombang pengungsian yang dipicu oleh runtuhnya negara Venezuela.
Data Washington mengungkap skala tragedi ini: sejak 2013, sekitar delapan juta jiwa telah melarikan diri dari himpitan ekonomi dan cengkeraman tangan besi penguasa.
Meskipun mayoritas pengungsi mencari suaka di negara tetangga Amerika Latin, fenomena ini tetap menjadi amunisi utama Trump dalam menyoroti isu keamanan perbatasan.
Tanpa menyajikan bukti, Trump menuduh Maduro "mengosongkan penjara dan rumah sakit jiwanya" dan memaksa narapidana untuk bermigrasi ke Amerika Serikaklaim yang kemudian ditolak mentah-mentah oleh Caracas.
Alasan kedua yang disebutkan adalah masalah narkoba.
Dalam pandangan Trump, Venezuela telah berevolusi menjadi jalan tol utama bagi peredaran kokain dan katalis krisis fentanyl di Amerika.
Sebagai respons keras, Trump resmi melabeli dua entitas kriminal Tren de Aragua dan Cartel de los Soles sebagai Organisasi Teroris Asing (FTO).
Tuduhan ini kian eksplosif ketika ia menunjuk hidung Nicolas Maduro bukan hanya sebagai presiden, melainkan sebagai pengendali utama di balik operasi Cartel de los Soles.
Caracas, pemerintahan negara Venezuela, memandang skeptis narasi 'perang melawan narkoba' yang didengungkan Washington, menudingnya sekadar kamuflase diplomatik bagi agenda pergantian rezim.
Presiden Maduro bahkan secara vokal menyuarakan keyakinannya bahwa ambisi sejati AS bukanlah memberantas kartel narkoba.
Maduro menegaskan bahwa manuver Washington sejatinya bermuara pada satu motif ekonomi klasik.
Yaitu, obsesi untuk mencengkeram aset paling strategis Venezuela, yakni lautan minyak yang menjadi cadangan terbesar di planet ini.
Kondisi di Caracas
Laporan media internasional mengonfirmasi eskalasi militer di Caracas, di mana warga melaporkan rentetan ledakan dan sabotase arus listrik di sekitar instalasi pertahanan.
Bukti empiris kian kuat setelah Associated Press memverifikasi sejumlah video amatir yang beredar.
Rekaman tersebut secara gamblang memperlihatkan baku tembak dan kepulan asap yang mengepung wilayah urban dan pesisir, serta pemadaman listrik strategis di markas militer menjadi saksi bisu intensitas serangan tersebut.
Perairan Karibia lantas berubah menjadi panggung gelar kekuatan masif Amerika Serikat, dengan kapal induk USS Gerald R Ford sebagai ujung tombaknya.
Operasi ini tak sekadar pamer otot, AS menerapkan blokade agresif dengan menyita dua tanker minyak dan melancarkan serangan mematikan terhadap kapal-kapal kecil yang dituding sebagai armada narkoba.
Tetapi sebuah manuver keras yang diakui telah merenggut lebih dari 100 nyawa.
Serangan terhadap titik-titik labuh strategis para penyelundup narkoba menjadi titik balik dalam kampanye ini.
Untuk pertama kalinya, Trump secara terbuka mengakui adanya gempuran di tanah Venezuela, sebuah tindakan yang dirasionalisasi oleh pemerintah AS sebagai bagian dari 'konflik bersenjata'.
Terminologi perang yang kini resmi disematkan dalam pertempuran mereka melawan kartel. (Muhammad Aryo Witjaksono)