RADAR JOGJA – Sedikitnya terdapat 66 orang dilaporkan tewas dan ratusan warga terpaksa mengungsi saat Topan Kalmaegi, salah satu badai terkuat tahun ini, menerjang wilayah tengah Filipina. Kota-kota di Pulau Cebu, Kawasan terpadat di wilayah tersebut, mengalami banjir besar dengan 49 korban jiwa tercatat di sana. Sebanyak 26 orang masih dinyatakan hilang, menurut keterangan pejabat pertahanan sipil dalam wawancara radio, Rabu (5/11).
Baca Juga: Indonesia Grafika Expo 2025 di JEC, Disperindag DIY: Momentum IKM Perkuat Branding
Rekaman video menunjukkan warga berlindung di atas atap rumah, sementara kendaraan dan container pengiriman terseret arus banjir. Di antara korban tewas, enam di antaranya adalah awak helicopter militer yang jatuh di Pulau Mindanao saat menjalankan misi bantuan.
Baca Juga: Prediksi Qarabag vs Chelsea Liga Champions Kamis 6 November Kick Off 01.45, H2H dan Susunan Pemain, Siapa Pemenangnya?
Topan Tino yang melanda Filipina menyebabkan kerusakan besar di wilayah Cebu dan sekitarnya. Sedikitnya enam awak helicopter militer tewas setelah pesawat jatuh di Agusan del Sur saat menjalankan misi bantuan. Badai yang sempat melemah tetap membawa angin kencang hingga 130km/jam dan diperkirakan bergerak ke Laut Cina Selatan.
Baca Juga: Prediksi Pafos vs Villarreal Liga Champions Kamis 6 November Kick Off 00.45, H2H dan Susunan Pemain, Siapa Pemenangnya?
Gubernur Cebu, Pamela Baricuatro, menyatakan keadaan bencana setelah banjir besar melanda wilayahnya. Ia menyebut air sebagai ancaman utama, bukan angin. Sebagian besar korban tewas dilaporkan akibat tenggelam, sementara tim penyelamat menghadapi medan berat dan puing-puing yang menghambat evakuasi.
Baca Juga: Pelaku Pembunuhan Perempuan di Gamping Tidak Langsung Ditangkap, Polisi Sebut Dalam Perawatan Medis dan Motif Masih Didalami
Kerusakan di permukiman sangat parah, banyak rumah hanyut dan lumpur tebal menurupi jalan. Lebih dari 400.000 warga telah mengungsi, menjadikan bencana ini salah satu yang terburuk dalam beberapa dekade terakhir.
Baca Juga: Polisi Selidiki Penyebab Palang Pintu Kereta Api yang Tidak Menutup Usai Kecelakaan di Prambanan
Filipina dilanda rata-rata 20 badai dan topan setiap tahun. Kejadian terkini terjadi hanya sebulan setelah dua topan berturut-turut menewaskan lebih dari 12 orang dan menimbulkan kerusakan pada infrastruktur dan tanaman.
Baca Juga: Menguak Silsilah Keluarga Mendiang Sri Susuhunan Pakubuwono XIII Raja Keraton Surakarta, Dari Istri, Anak hingga Cucu
Topan Super Ragasa, yang dikenal secara lokal sebagai Nando, melanda pada akhir September, diikuti dengan cepat oleh Topan Bualoi, yang dikenal secara lokal sebagai Opong.
Baca Juga: Dibuka Lagi! Program Magang Nasional Batch 2 Tawarkan Pengalaman Kerja di Ratusan Instansi
Pada bulan-bulan sebelumnya, musim hujan yang luar biasa basah menyebabkan banjir besar, yang memicu kemarahan dan protes atas system pengendali banjir yang belum selesai dan di bawah standar yang telah disalahkan pada korupsi.
Baca Juga: Pencairan Kenaikan Gaji Pensiunan 2025 di November Gagal ? Begini Penjelasan Pemerintah
Pada tanggal 30 September lalu, puluhan orang tewas dan terluka setelah gempa bumi berkekuatan 6,9 skala Richter mengguncang Filipina tengah, dengan Cebu menanggung beban kerusakan paling berat.
Baca Juga: Pelaku Pembunuhan Perempuan di Gamping Tertangkap, Berupaya Bunuh Diri dengan Minum Baygon di Makam Orang Tua di Secang Magaleng
Topan Kalmaegi diperkirakan akan bergerak ke Vietnam, yang saat ini tengah mengalami curah hujan yang memecahkan rekor.
(Hanifah Okta)