RADAR JOGJA - Angkatan laut Israel mencegat armada bantuan untuk Gaza pada hari Rabu kemarin (1/10/2025).
The Global Sumud Flotilla terdiri dari 50 kapal dan 500 aktivis, termasuk Greta Thunberg, aktivis lingkungan yang cukup populer.
Petugas pers armada, Hasina Kathrada menyatakan bahwa Sembilan kapal telah diberhentikan sejak awal Kamis waktu setempat (2/10/2025).
Dilansir dari NBC News, kantor pers armada mengungkapkan bahwa sebelum mencegat kapal-kapal tersebut secara ilegal, tampaknya kapal-kapal angkatan laut Israel sengaja merusak komunikasi kapal, dalam upaya memblokir sinyal marabahaya dan menghentikan siaran langsung penyerbuan kapal ilegal mereka.
"Selain kapal-kapal yang terkonfirmasi telah dicegat, liputan siaran langsung dan komunikasi dengan beberapa kapal lainnya juga terputus," tulis kantor pemberitaan tersebut.
Armada tersebut telah mengalami beberapa insiden seperti ledakan, gangguan dari drone, dan sinyal komunikasi yang terputus.
Para aktivis berpendapat bahwa semua gangguang tersebut merupakan upaya yang dilakukan Israel untuk menghambat penyaluran bantuan yang akan dikirim ke Gaza.
Seorang veteran Amerika yang berada dalam salah satu kapal, Greg Stoker mengatakan bahwa ada setidaknya 12 kapal Angkatan laut dengan transponder mati mendekati mereka saat berada sejauh 70 hingga 80 mil laut dari Pantai Gaza.
“Mereka (pihak Israel) saat ini sedang memanggil kapal kami, memberi tahu kami agar mematikan mesin dan menunggu intruksi lebih lanjut, atau kapal kami akan disita dan kami akan menghadapi konsekuensinya,” kata Stoker yang menggunakan jaket pelampung berwarna merah dalam video yang bergetar di unggahan Instagram.
Postingan video di akun media Telegram yang berasosiasi dengan armada tersebut memperlihatkan salah satu kapal yang disemprot air dengan caption “water cannoed” dalam unggahan video.
Postingan lainnya menyatakan bahwa salah satu kapal sengaja diarahkan ke laut.
The Israel Defense Force (IDF) juga tak kunjung merespon tentang hal ini.
Kementrian Luar Negeri Israel mengunggah postingan di X yang menyatakan bahwa tujuan dari armada tersebut adalah provokasi.
"Israel telah memberi tahu armada tersebut bahwa mereka sedang mendekati zona pertempuran aktif dan melanggar blokade laut yang sah. Israel menegaskan kembali tawaran untuk mengirimkan bantuan apa pun secara damai melalui jalur aman ke Gaza," demikian isi postingan tersebut.
Postingan X dari Kementrian Luar Negeri Israel juga menunjukkan video Thunberg mengenakan kemeja putih di atas kaus oblong hitam dan keffiyeh sementara dia duduk di sebelah orang yang berlutut dengan pakaian militer.
Kapal-kapal dalam armada tersebut berlayar di perairan internasional di utara Mesir pada hari Rabu dan telah memasuki apa yang disebut oleh para aktivis dan pihak lain sebagai "zona bahaya" atau "zona berisiko tinggi".
Meskipun masih berada di perairan internasional, wilayah tersebut merupakan wilayah di mana angkatan laut Israel telah menghentikan kapal-kapal lain yang mencoba menerobos blokadenya di masa lalu dan armada tersebut telah diperingatkan untuk tidak dilintasi.
Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut menetapkan bahwa suatu negara hanya memiliki yurisdiksi hingga 12 mil laut dari pantainya.
Secara umum, negara tidak memiliki hak untuk menyita kapal di perairan internasional, meskipun konflik bersenjata merupakan pengecualian.
Para aktivis yang ditahan IDF dari armada kapal menuju Gaza musim panas ini hanya ditahan beberapa hari, tetapi kali ini bisa berbeda, kata Miriam Azem, koordinator advokasi internasional untuk Adalah, sebuah organisasi hak asasi manusia dan pusat hukum.
“Kami telah melihat beberapa ancaman dari para pejabat bahwa kali ini kami mungkin akan menghadapi penahanan yang lebih lama. Semua ancaman ini sama sekali tidak berdasar, tetapi kami tidak akan mengesampingkan otoritas Israel dalam hal ini,” kata Azem dalam sebuah wawancara telepon.
Kelompoknya kemungkinan besar akan memberikan perwakilan hukum bagi banyak aktivis di armada Sumud yang mungkin ditahan.
“Skala armada ini, yang benar-benar menantang blokade dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya, membuat sangat sulit untuk memprediksi bagaimana pihak berwenang akan merespons, dan kita bahkan belum melewati titik di mana semua intersepsi telah berakhir,” kata Azem.
“Semuanya masih banyak perkembangan saat kita berbicara,” imbuhnya. (Nugrahaningtyas)
Editor : Meitika Candra Lantiva