RADAR JOGJA – Hamas dan Israel saat ini tengah mempertimbangkan sebuah proposal gencatan senjata selama 60 hari yang diinisiasi oleh Amerika Serikat.
Melansir dari CBS News, proposal tersebut diajukan sebagai bagian dari upaya diplomatik untuk meredakan eskalasi konflik yang telah berlangsung sejak Oktober 2023.
Pemerintah Israel telah menyatakan persetujuannya terhadap proposal tersebut.
Sementara itu, Hamas masih dalam tahap peninjauan lebih lanjut dan menyatakan bahwa beberapa tuntutan utama mereka belum diakomodasi sepenuhnya.
Proposal yang disampaikan oleh utusan Amerika Serikat, Steve Witkoff, memuat beberapa poin utama sebagai berikut:
- Gencatan senjata selama 60 hari.
- Pembebasan 10 sandera Israel yang masih hidup serta pemulangan jenazah 18 lainnya oleh Hamas.
- Pembebasan lebih dari 1.100 tahanan Palestina oleh otoritas Israel.
- Penarikan pasukan Israel ke posisi semula sebelum konflik saat ini dimulai.
- Peningkatan akses bantuan kemanusiaan harian ke wilayah Gaza.
Namun demikian, proposal tersebut tidak mencakup penghentian permanen konflik maupun penarikan penuh pasukan Israel dari Gaza, yang menjadi salah satu tuntutan utama pihak Hamas.
Hamas menyampaikan bahwa isi proposal belum sepenuhnya memenuhi syarat yang mereka ajukan.
Termasuk penghentian total agresi militer serta pencabutan blokade yang telah memperburuk krisis kemanusiaan di Gaza.
Mereka juga menekankan pentingnya jaminan bahwa tidak akan ada kelanjutan serangan setelah pertukaran tahanan dilakukan.
Dari pihak Israel, pemerintah menegaskan bahwa penghentian operasi militer hanya akan dilakukan apabila semua sandera berhasil dibebaskan dan kemampuan operasional Hamas dinonaktifkan.
Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, menyerukan penggunaan “kekuatan penuh” jika Hamas menolak kesepakatan yang diajukan.
Sejak dimulainya konflik pada Oktober 2023, lebih dari 54.000 warga Palestina dilaporkan tewas, termasuk sekitar 16.500 anak-anak.
Blokade yang berlangsung selama hampir tiga bulan telah menyebabkan krisis pangan, kelangkaan obat-obatan, serta keterbatasan akses bantuan kemanusiaan di Gaza.
Upaya internasional dalam pengiriman bantuan kerap terhambat oleh kendala logistik dan pembatasan militer.
Negosiasi masih berlangsung dengan mediasi dari Amerika Serikat, Mesir, dan Qatar.
Proposal ini diharapkan menjadi titik awal menuju gencatan senjata yang lebih berkelanjutan dan penurunan tensi di wilayah konflik. (Tri Advent Sipangkar)
Editor : Meitika Candra Lantiva