Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Umat Buddha Merayakan Hari Raya Waisak 2569 BE, Ketahui Makna Yang Ada di Baliknya

Bahana. • Senin, 12 Mei 2025 | 20:49 WIB
LAKU SPIRITUAL: Para biksu dan umat Buddha mengikuti kirab Waisak dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur, (23/5).
LAKU SPIRITUAL: Para biksu dan umat Buddha mengikuti kirab Waisak dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur, (23/5).

RADAR JOGJA - Pada tanggal 12 Mei 2025, umat Buddha merayakan Hari Raya Waisak 2569 BE.

Hari Raya Waisak adalah perayaan Buddha yang memperingati tiga peristiwa penting dalam kehidupan Gautama Buddha: kelahiran, pencerahan, dan kematian.

Di Indonesia, ini diakui sebagai hari libur nasional berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri Nomor 1017/2/2 Tahun 2024, yang mengatur hari libur nasional dan cuti bersama tahun 2025.

Pada haru ini, umat Buddha biasanya mengadakan upacara di vihara, meditasi, dan kegiatan keagamaan lainnya.

Hari Waisak dikenal pula sebagai Hari Trisuci Waisak, karena memperingati tiga momen sakral: kelahiran Siddhartha Gautama, pencerahan agung (Bodhi) saat ia mencapai kebuddhaan, dan parinibbana, yaitu saat wafatnya Sang Buddha dan meninggalkan kehidupan dunia.

Ketiga peristiwa agung itu diyakini terjadi di tanggal yang sama menurut kalender lunar, yaitu saat bulan purnama di bulan Waisakha, yang jatuh antara Mei hingga awal Juni dalam penanggalan masehi.

Di Indonesia, penentuan tanggal Waisak biasanya diumumkan oleh Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) dan ditetapkan sebagai hari libur nasional.

Sejarah dan Pengakuan Dunia

Meskipun sudah dirayakan selama berabad-abad oleh umat Buddha di berbagai negara Asia, Hari Waisak baru secara resmi diakui dunia melalui resolusi Majelis Umum PBB pada tahun 1999.

Sejak saat itu, Waisak diperingati pula secara internasional sebagai bentuk penghargaan terhadap ajaran Buddha yang mendorong perdamaian, kasih sayang, dan kebijaksanaan universal.

Menariknya, meskipun dirayakan di banyak negara, Waisak memiliki beragam nama lokal.

Di Sri Lanka dan Thailand dikenal sebagai Vesak, di Tibet sebagai Saga Dawa, dan di Jepang sebagai Hanamatsuri.

Namun, semangatnya tetap sama: mengenang perjalanan hidup spiritual Sang Buddha.

Tradisi di Indonesia: Damai di Bawah Candi Borobudur

Di Indonesia, salah satu pusat perayaan Waisak yang paling dikenal adalah Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah.

Ribuan umat Buddha dari berbagai daerah berkumpul di kompleks candi warisan dunia tersebut untuk mengikuti rangkaian ritual sakral.

Acara biasanya dimulai beberapa hari sebelumnya, dengan pengambilan air suci dari Umbul Jumprit di Temanggung dan Api Dharma dari Mrapen di Grobogan.

Salah satu momen paling ikonik adalah ritual pradaksina, yaitu mengelilingi Candi Borobudur sebanyak tiga kali searah jarum jam sambil membawa lilin dan berdoa.

Di malam harinya, suasana berubah menjadi magis saat ribuan lampion dilepaskan ke langit, membawa harapan dan doa bagi kehidupan yang lebih baik.

Selain di Borobudur, perayaan Waisak juga dilakukan di vihara-vihara dan komunitas Buddha di berbagai kota di Indonesia, dengan semangat damai yang sama.

Lebih dari Sekadar Ritual

Waisak bukan sekadar serangkaian upacara keagamaan, tapi juga menjadi momen perenungan batin bagi banyak orang—termasuk mereka yang mungkin bukan pemeluk Buddha.

Nilai-nilai seperti kedamaian, welas asih, pengendalian diri, dan penghargaan terhadap semua makhluk hidup adalah pesan yang bisa diterima dan dipraktikkan oleh siapa pun.

Dalam dunia yang penuh tantangan, ajaran Buddha tentang mengurangi kemelekatan, mengendalikan hawa nafsu, dan membangun cinta kasih universal terasa semakin relevan.

Tak heran jika Waisak juga menjadi waktu yang dipilih banyak orang untuk bermeditasi, melakukan refleksi diri, atau bahkan memulai kebiasaan hidup baru yang lebih tenang dan seimbang.

Tri Advent Sipangkar

Editor : Bahana.
#hari raya waisak #waisak