Pemerintah China menegaskan bahwa mereka tidak akan tinggal diam terhadap upaya apa pun—baik secara langsung maupun tidak langsung—yang dapat mengganggu stabilitas posisinya di kancah ekonomi global.
Dalam pernyataan resminya, dikutit melalui reuters Kementerian Perdagangan China menyatakan "Kami tidak akan tinggal diam terhadap upaya-upaya yang secara langsung atau tidak langsung merugikan posisi ekonomi China."
Pernyataan ini diikuti dengan peringatan bahwa China akan mengambil langkah balasan terhadap negara mana pun yang membuat kesepakatan dagang dengan Amerika Serikat yang dianggap mencederai kepentingan nasional China.
Langkah ini merupakan sinyal kuat bahwa Beijing siap menggunakan instrumen ekonomi sebagai alat negosiasi dalam menghadapi dinamika perdagangan global.
Ketegangan perdagangan antara China dan Amerika Serikat semakin memanas setelah keputusan Presiden AS, Donald Trump, untuk memberlakukan tarif tinggi terhadap banyak produk impor, terutama yang berasal dari China.
Seiring dengan kebijakan tersebut, beberapa negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan dilaporkan telah memulai pembicaraan dagang terpisah dengan Amerika Serikat dengan tujuan mendapatkan perlakuan tarif yang lebih menguntungkan.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China menyatakan bahwa perjanjian dagang bilateral antara negara-negara tertentu dengan AS dapat "mendorong fragmentasi ekonomi global."
Ia juga menekankan bahwa keuntungan jangka pendek dari perjanjian-perjanjian tersebut berpotensi berdampak negatif terhadap stabilitas kawasan dalam jangka panjang.
Pernyataan ini menimbulkan kekhawatiran akan kemungkinan gangguan lebih jauh pada tatanan ekonomi internasional.
Sebagai bagian dari langkah balasan, China telah menetapkan tarif impor hingga 125 persen untuk beberapa produk asal Amerika Serikat.
Selain itu, pemerintah Beijing sedang mempertimbangkan ekspansi sanksi ekonomi tambahan sebagai respons terhadap kebijakan perdagangan tersebut.
Pada saat yang sama, China menyerukan solidaritas internasional dalam menghadapi apa yang mereka sebut sebagai “intimidasi ekonomi” dan “hegemoni unilateral” yang dilakukan oleh Washington.
Kebijakan-kebijakan dan peringatan yang dikeluarkan oleh China ini diprediksi dapat menambah panasnya tensi geopolitik yang sudah ada.
Kekhawatiran pun muncul terkait gangguan pada rantai pasok global serta meningkatnya ketidakpastian pasar internasional.
Situasi ini menjadi sorotan utama, karena setiap langkah dalam perang dagang ini berpotensi memiliki dampak luas yang melampaui peringkat bilateral antara China dan Amerika Serikat.
Dengan munculnya seruan agar ada solidaritas internasional, pernyataan resmi China menyiratkan pentingnya kolaborasi antarnegara demi menjaga stabilitas ekonomi global.
Pemerintah Beijing berharap bahwa negara-negara lain dapat menyadari bahwa keuntungan jangka pendek tidak sejalan dengan kepentingan jangka panjang, khususnya dalam konteks menjaga kestabilan kawasan dan menghindari fragmentasi ekonomi dunia.
Penulis: Samil Ngirfan Al Makki
Editor : Bahana.