RADAR JOGJA - Paus Fransiskus, pemimpin Gereja Katolik Roma yang pertama berasal dari Amerika Latin dan Jesuit, meninggal dunia pada usia 88 tahun di Casa Santa Marta, Vatikan, pada pukul 07.35 pagi waktu setempat.
Pengumuman resmi disampaikan oleh Vatikan pada hari Senin, 21 April 2025, yang bertepatan dengan Hari Senin Paskah.
Kondisi Kesehatan dan Perawatan
Sejak tahun 2024, Paus Fransiskus menghadapi masalah kesehatan serius, termasuk infeksi paru-paru ganda yang memerlukan rawat inap selama 38 hari di Rumah Sakit Gemelli, Roma.
Dia juga menderita penyakit paru kronis dan pernah menjalani operasi pengangkatan sebagian paru-paru pada masa mudanya.
Meskipun demikian, Paus tetap aktif dalam menjalankan tugasnya, termasuk melakukan perjalanan ke Asia Tenggara dan Oseania pada bulan September 2024.
Warisan Kepemimpinan
Selama masa kepemimpinannya yang berlangsung lebih dari 12 tahun, Paus Fransiskus dikenal dengan pendekatan progresif terhadap ajaran Gereja.
Beliau menekankan pentingnya gereja yang berpihak pada kaum miskin dan terpinggirkan, serta mendorong dialog antaragama dan interaksi dengan dunia modern.
Paus juga dikenal karena sikap terbukanya terhadap isu-isu sosial, seperti hak-hak LGBTQ+, migrasi, dan perubahan iklim.
Pemakaman dan Rencana Akhir
Paus Fransiskus telah menyatakan keinginannya untuk dimakamkan di Basilika Santa Maria Maggiore di Roma, dekat dengan ikon Salus Populi Romani yang sangat dihormatinya.
Dia memilih untuk dimakamkan dalam peti mati kayu sederhana, bukan dalam tiga peti tradisional yang biasa digunakan untuk pemakaman paus.
Ini mencerminkan kesederhanaan dan kerendahan hati yang menjadi ciri khas kepemimpinannya.
Reaksi Dunia
Kabar wafatnya Paus Fransiskus disambut dengan duka mendalam dari berbagai penjuru dunia.
Pemimpin dunia dan umat Katolik menyampaikan penghormatan atas dedikasi dan pelayanan beliau.
Kardinal Kevin Farrell menggambarkan Paus sebagai "murid sejati yang menjalani Injil dengan iman, keberanian, dan kasih sayang khusus untuk yang terpinggirkan".
Paus Fransiskus meninggalkan warisan yang mendalam bagi Gereja Katolik dan dunia.
Kepemimpinan beliau yang penuh kasih, progresif, dan inklusif telah membawa perubahan signifikan dalam cara Gereja berinteraksi dengan dunia luar.
Meskipun menghadapi tantangan kesehatan, beliau tetap menjalankan tugasnya dengan penuh dedikasi hingga akhir hayatnya. (Anicetus Awur)
Editor : Meitika Candra Lantiva