RADAR JOGJA - Pada Jumat, 28 Maret 2025, sebuah gempa bumi dahsyat mengguncang Myanmar dengan kekuatan 7,7 magnitudo.
Episentrumnya terletak di dekat kota Mandalay, wilayah Sagaing, yang menyebabkan kerusakan parah tidak hanya di Myanmar, tetapi juga di beberapa wilayah Thailand.
Hingga hari ini, jumlah korban jiwa di Myanmar terus meningkat, dengan lebih dari 3.000 orang dilaporkan meninggal dunia, sementara lebih dari 4.700 lainnya mengalami luka-luka.
Lebih dari 300 orang masih hilang dan kemungkinan besar menjadi korban dari bencana ini.
Bangunan Bersejarah Runtuh
Di Myanmar, dampak gempa sangat terasa di kota-kota besar seperti Mandalay dan Pyawbwe.
Banyak bangunan, termasuk Kambawza Bank dan Mahamuni Pagoda yang terkenal, runtuh akibat kekuatan gempa yang sangat besar.
Sekolah-sekolah, rumah ibadah, dan berbagai fasilitas publik lainnya juga hancur.
Selain kerusakan fisik, gempa ini juga memicu bencana sekunder berupa hujan lebat yang menghambat upaya penyelamatan.
Kondisi ini semakin mempersulit para tim SAR yang sedang berjuang untuk mencari korban yang masih tertimbun puing-puing bangunan.
Selain Myanmar, Thailand juga merasakan dampak gempa tersebut, terutama di ibu kota, Bangkok.
Di sana, sebuah gedung bertingkat 32 lantai runtuh, menewaskan sedikitnya 22 orang dan melukai 35 lainnya.
Meskipun kerusakan di Thailand tidak separah di Myanmar, dampaknya tetap signifikan, terutama bagi keluarga korban dan masyarakat yang terkejut oleh bencana ini.
Bantuan dari Indonesia
Di tengah tragedi yang melanda Myanmar, Indonesia menunjukkan solidaritas dengan segera mengirimkan bantuan kemanusiaan.
Melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Indonesia mengirimkan tim penyelamat yang terdiri dari 65 personel serta lebih dari 124 ton bantuan kemanusiaan senilai 1,26 juta dolar AS.
Dua pesawat juga dikirimkan untuk membawa tim dan bantuan ke Myanmar, serta untuk membantu distribusi barang ke daerah-daerah yang terkena dampak.
Indonesia juga mengalokasikan dana sebesar Rp10,9 miliar untuk membantu pemulihan dan kebutuhan dasar bagi korban.
Meskipun pemerintah Myanmar telah mengumumkan gencatan senjata sementara untuk memudahkan distribusi bantuan, tantangan politik dan logistik tetap menjadi hambatan besar dalam proses pemulihan.
Hujan yang diperkirakan akan berlangsung hingga pertengahan April 2025 menambah kesulitan bagi tim penyelamat yang terus berusaha mencari dan menolong para korban yang tertimbun.
Sementara itu, banyak pihak berharap bantuan internasional dapat mempercepat proses pemulihan dan memberikan harapan baru bagi Myanmar yang tengah berjuang melawan bencana besar ini.
Namun, dampak jangka panjang dari gempa ini tidak hanya terbatas pada kerusakan fisik, tetapi juga berpotensi memperburuk kondisi ekonomi dan sosial di negara yang sudah terpuruk akibat ketegangan politik internal.
(Adinda Fatimatuzzahra)
Editor : Iwa Ikhwanudin