Langkah ini telah mengguncang pasar global, terutama bagi negara-negara di Asia yang memiliki keterkaitan erat dalam rantai pasokan global yang kompleks.
Tarif baru ini diperkirakan akan berdampak pada ekspor dan pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia.
Trump mengusulkan tarif yang menargetkan sektor-sektor seperti semikonduktor, farmasi, baja, dan aluminium.
Nomura, lembaga riset terkemuka, memperkirakan bahwa lebih dari seperempat ekspor dari negara-negara seperti Korea Selatan, Jepang, Malaysia, Filipina, dan Taiwan bisa terpengaruh.
Siapa yang Paling Terkena Dampaknya?
Beberapa negara di Asia diperkirakan lebih rentan terhadap tarif langsung AS.
Negara-negara seperti China, Korea Selatan, dan Vietnam menjadi yang paling terpapar oleh kebijakan tarif ini.
Secara keseluruhan, negara-negara dengan porsi permintaan eksternal yang lebih besar dalam pertumbuhan PDB mereka akan lebih terpengaruh, tidak hanya oleh tarif langsung, tetapi juga oleh ketidakpastian perdagangan global yang ditimbulkan oleh kebijakan "America First" Trump.
Ketidakpastian ini dapat mengurangi investasi lintas negara dan memperlambat peningkatan kapasitas ekonomi.
Negara-negara di Asia yang Paling Terpapar
Baca Juga: Miris, Lebaran Tinggal Sebentar Lagi, Puluhan Buruh di Kota Jogja Malah Kena PHK
Negara-negara di Asia Timur Laut, seperti China, Korea Selatan, dan Vietnam, adalah yang paling rentan terhadap dampak tarif AS.
China dan Korea Selatan, misalnya, memiliki surplus perdagangan barang yang besar dengan AS, serta sangat bergantung pada permintaan eksternal.
Di sektor tertentu, kebijakan Trump untuk meningkatkan produksi domestik barang-barang teknologi tinggi juga berpotensi berdampak pada negara-negara Asia yang merupakan eksportir utama semikonduktor, kecerdasan buatan (AI), dan barang-barang terkait sektor energi baru.
Dalam hal ini, negara-negara ekonomi besar di Asia Timur Laut, seperti China, Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan, lebih terpapar tarif dibandingkan dengan negara-negara Asia Selatan atau Asia Tenggara.
Indonesia, Malaysia, dan Thailand Tertahan di Tengah-tengah
Di tengah-tengah, ada negara-negara seperti Malaysia, Thailand, dan Indonesia.
Malaysia dan Thailand, meskipun memainkan peran penting dalam rantai pasokan semikonduktor dan otomotif global, telah mendapat manfaat dari pergeseran rantai pasokan yang baru-baru ini terjadi.
Ini diharapkan dapat sedikit mengimbangi dampak tarif.
Sementara itu, Indonesia yang memiliki surplus perdagangan kecil dengan AS, bisa menghadapi gangguan dalam ekosistem kendaraan listrik (EV) yang besar, terutama setelah pencabutan insentif EV oleh Trump dalam Undang-Undang Pengurangan Inflasi (IRA).
Langkah ini dapat menahan investasi AS di smelter nikel Indonesia dan pabrik baterainya.
Penulis: Abel Alma Putri