Dalam waktu hanya 48 jam setelah gejala pertama muncul, setidaknya 60 orang telah meninggal dan lebih dari 1.000 orang lainnya jatuh sakit.
Gejala penyakit ini meliputi demam, sakit kepala, menggigil, berkeringat, leher kaku, nyeri otot, nyeri pada banyak sendi, tubuh terasa pegal, hidung berair atau berdarah, batuk, muntah, dan diare. Hal ini terungkap dalam laporan terbaru WHO yang dikeluarkan pada Kamis lalu.
Pada konferensi pers, Direktur Urusan Darurat WHO, menyatakan bahwa penyakit ini kemungkinan besar disebabkan oleh keracunan, sebuah teori yang bertentangan dengan dugaan sebelumnya dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika yang menganggap malaria sebagai penyebabnya.
“Berdasarkan waktu antara gejala muncul hingga kematian, penyakit ini sangat mirip dengan kejadian toksik, baik dari perspektif biologis seperti meningitis, atau dari paparan bahan kimia,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa ada "kecurigaan yang sangat kuat" bahwa keracunan ini terkait dengan "sumber air."
Penyelidikan awal mengungkapkan bahwa wabah pertama kali dimulai di Desa Boloko, kemudian mulai menyebar ke Desa Danda yang berdekatan.
Wabah kedua kemudian menjadi lebih besar di Desa Bomate.
Penyelidikan awal melacak wabah ini pada tiga anak yang pada bulan Januari memakan kelelawar dan meninggal dunia.
Sebelum meninggal, ketiga anak tersebut mengalami pendarahan dari hidung dan muntah darah.
Virus yang ada pada kelelawar diketahui dapat menyebabkan berbagai penyakit pada manusia dan dianggap sebagai reservoir alami bagi virus Marburg dan Ebola, dua penyakit demam berdarah yang terus menyebabkan wabah di wilayah tersebut.
Meskipun tes laboratorium menunjukkan hasil negatif untuk Marburg dan Ebola, sekitar setengah dari sampel yang diuji menunjukkan hasil positif untuk malaria, yang memang sangat umum di daerah tersebut.
Dr. Ngashi Ngongo dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika menyatakan dalam konferensi pers virtual bahwa tes awal menunjukkan adanya kaitan dengan malaria.
“Penyakit yang terjadi di Équateur sangat mirip dengan kejadian di Panzi tahun lalu,”ujarnya.
Ia mengungkapkan penyakit itu mirip flu yang menginfeksi ratusan orang di bagian barat daya negara RD Kongo. Penyakit itu kemudian ditemukan kemungkinan besar disebabkan oleh infeksi pernapasan yang diperburuk oleh malaria.
Meskipun WHO menyatakan telah membantu pihak berwenang setempat, bantuan ke negara tersebut kemungkinan telah berkurang akibat pemotongan dana dari AS baru-baru ini.
Sebelum pemotongan dana oleh pemerintahan Trump terhadap USAID, Amerika Serikat mungkin telah mengirimkan ahli untuk menangani wabah di daerah panas Kongo.
Saat ini, kurang dari 10 orang yang bekerja di sisa-sisa lembaga tersebut untuk merespons wabah di seluruh dunia, termasuk yang disebabkan oleh Ebola, mpox, dan Marburg.
Penulis: Abel Alma Putri