Keputusan Presiden Donald Trump untuk membekukan bantuan internasional selama 90 hari dan menutup Badan Pembangunan Internasional AS (USAID), memberikan dampak besar pada jutaan orang di berbagai negara.
Pemotongan dana ini akan mempengaruhi banyak program penyelamatan hidup, termasuk pengobatan dan pencegahan HIV, pengobatan malaria, serta perawatan untuk ibu dan bayi baru lahir.
Selain itu, pelayanan kesehatan dasar untuk pengungsi dan korban konflik, seperti yang ada di Sudan dan Gaza, juga akan dihentikan.
Menurut Global Health Council, sebuah aliansi yang terdiri dari organisasi non-profit dan perusahaan yang bergantung pada bantuan luar negeri AS, keputusan ini akan merugikan banyak orang di seluruh dunia.
"Langkah sepihak ini akan mengancam jutaan nyawa," kata mereka dalam sebuah pernyataan.
Latar Belakang Pemotongan Dana
Setelah menjabat, Presiden Trump membekukan bantuan luar negeri untuk meninjau alokasi dana dan memastikan bantuan tersebut sesuai dengan kebijakan "America First".
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio sempat menyatakan bahwa bantuan yang menyelamatkan nyawa akan tetap diteruskan melalui pengecualian.
Namun, pada Rabu (27/2), pemerintah AS mengumumkan bahwa tinjauan tersebut telah selesai, dan keputusan untuk memotong dana telah final.
Keputusan ini mempengaruhi program-program yang menangani vaksinasi terhadap virus seperti polio, mpox, dan Ebola, serta distribusi makanan untuk negara-negara yang mengalami kelaparan.
Dampak Langsung dan Penurunan Bantuan
Menurut situs ForeignAssistance.gov, AS menyalurkan sekitar $72 miliar dalam bantuan luar negeri pada tahun fiskal yang berakhir pada 20 September 2023.
Dari jumlah itu, USAID mengelola sekitar $44 miliar yang disalurkan untuk program-program bantuan di lebih dari 160 negara.
Setelah pembekuan dana pada Januari 2025, banyak program bantuan dan pembangunan yang didanai oleh AS terpaksa dihentikan atau dikurangi, yang mengakibatkan penutupan beberapa program dan pemecatan staf di berbagai negara.
Penulis: Abel Alma Putri
Editor : Bahana.