RADAR JOGJA - Perlawanan panjang rakyat Suriah terhadap pemerintahan Bashar Al Assad akhirnya mencapai puncaknya pada Minggu (8/12/2024).
Presiden yang telah memimpin selama lebih dari dua dekade itu resmi digulingkan oleh aliansi pemberontak bersenjata dalam serangan besar-besaran yang menewaskan lebih dari 900 orang dalam waktu 11 hari.
Peristiwa ini sekaligus menandai runtuhnya kekuasaan dinasti Assad yang telah bertahan selama lebih dari lima dekade.
Menurut laporan Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) yang berbasis di Inggris, korban tewas mencakup 138 warga sipil, 380 personel militer Suriah, dan 392 pemberontak sejak dimulainya serangan pada 27 November.
Aliansi pemberontak yang dipimpin oleh kelompok Hayat Tahrir al-Sham (HTS) bergerak cepat, merebut Idlib dan Aleppo sebelum akhirnya menguasai Damaskus pada 7 Desember.
Assad Kabur ke Rusia, Damaskus Jatuh
Damaskus, yang selama bertahun-tahun menjadi simbol kekuasaan rezim Assad, jatuh ke tangan oposisi setelah pertempuran sengit.
Assad dan keluarganya dilaporkan telah meninggalkan Suriah, dengan bantuan sekutu utamanya, Rusia.
Awalnya, Kremlin hanya menyebut Assad telah mengundurkan diri tanpa memberikan rincian lebih lanjut.
Namun, media Rusia kemudian mengungkapkan bahwa keluarga Assad kini berada di Moskow.
Perang saudara yang berlangsung sejak 2011 ini menjadi babak terakhir dari konflik yang telah menghancurkan negara itu.
Suriah tak hanya menghadapi kerusakan infrastruktur masif, tetapi juga krisis kemanusiaan dengan lebih dari 7 juta pengungsi internal dan 6 juta lainnya melarikan diri ke luar negeri.
Seruan Keadilan dari Amnesty International
Jatuhnya rezim Assad membuka peluang baru untuk menuntut keadilan bagi korban pelanggaran hak asasi manusia selama puluhan tahun.
Amnesty International melalui Kepala Agnes Callamard menyebut situasi ini sebagai "kesempatan bersejarah."
Ia mendesak para pelaku kejahatan internasional, termasuk Assad dan pendukungnya, untuk diselidiki dan diadili.
Callamard juga meminta semua proses hukum dilakukan secara adil tanpa melibatkan hukuman mati, serta menyerukan kelompok oposisi untuk menghindari kekerasan balasan.
"Keadilan harus ditegakkan, bukan pembalasan," ungkapnya.
Damaskus dan Masa Depan Suriah
Dengan jatuhnya Damaskus, perhatian kini beralih pada stabilitas pasca-konflik dan masa depan pemerintahan Suriah.
Perebutan kendali oleh kelompok oposisi bersenjata membawa tantangan baru, termasuk menjaga harmoni di tengah masyarakat yang terluka oleh perang panjang.
Namun, harapan tetap ada di tengah kehancuran. Banyak pihak internasional menyerukan dukungan rekonstruksi Suriah dan membangun perdamaian jangka panjang untuk generasi mendatang.
Editor : Winda Atika Ira Puspita