Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kudeta Bashar Al Assad: Dinasti Lima Dekade Runtuh, Abu Mohammed Al Julani dan HTS Rebut Kendali Suriah

Izzatul Akmal Fikri • Senin, 9 Desember 2024 | 22:11 WIB

Runtuhnya kekuasaan Bashar Al Assad membuka lembar baru bagi Suriah.
Runtuhnya kekuasaan Bashar Al Assad membuka lembar baru bagi Suriah.


RADAR JOGJA - Pemimpin Suriah Bashar Al Assad, yang dikenal dengan pemerintahannya yang keras, akhirnya terguling dari tampuk kekuasaan setelah kelompok oposisi dan pemberontak Hayat Tahrir Al Sham (HTS) merebut kendali.

Kelompok ini dipimpin oleh Abu Mohammed Al Julani, figur yang kini menjadi perhatian dunia atas perannya dalam perubahan besar di Suriah.

Bashar Al Assad adalah generasi kedua dari dinasti politik al-Assad, yang telah memegang kendali di Suriah selama lebih dari lima dekade.

Kepemimpinan Bashar dimulai pada tahun 2000 setelah kematian sang ayah, Hafez al-Assad, tokoh politik dari kelompok minoritas Alawi yang mendirikan rezim tersebut.

Meski bukan anak sulung, Bashar menjadi pewaris kekuasaan setelah kakaknya, Bassel, tewas dalam kecelakaan mobil pada 1994.

Jalan Bashar menuju kursi kepresidenan tidak lepas dari rekayasa politik.

Parlemen Suriah mengubah konstitusi, menurunkan batas usia calon presiden dari 40 menjadi 34 tahun, yang memungkinkan Bashar mencalonkan diri.

Namun, harapan negara-negara Barat bahwa Bashar akan membawa angin segar ke Suriah terbukti keliru.

Ia melanjutkan kebijakan otoriter ayahnya, mempertahankan hubungan dekat dengan kelompok perlawanan seperti Hamas dan Hizbullah, serta menentang keterlibatan Barat di kawasan tersebut.

Kepemimpinan Bashar membawa Suriah ke dalam perang saudara yang pecah pada 2011.

Konflik itu menghancurkan negara, mengubahnya menjadi medan perang proksi antara kekuatan regional dan global.

Bashar juga menolak bergabung dengan koalisi pimpinan Amerika Serikat yang memerangi ISIS pada 2015, membuat konflik semakin kompleks.

Laporan PBB menyebutkan lebih dari 7 juta orang mengungsi di dalam negeri, dan lebih dari 6 juta lainnya menjadi pengungsi internasional per awal 2024.

Di tengah kekacauan tersebut, kelompok Hayat Tahrir Al Sham (HTS) muncul sebagai pemain dominan.

Dipimpin oleh Abu Mohammed Al Julani, HTS berhasil mengorganisasi oposisi melawan pasukan Assad, hingga akhirnya berhasil menggulingkan rezimnya.

Perubahan ini membawa babak baru dalam sejarah Suriah yang penuh gejolak.

Selain itu, Bashar Al Assad yang menikah dengan Asma al-Assad, seorang bankir keturunan Suriah yang dibesarkan di London, menjadi sorotan karena dianggap melanjutkan kehidupan mewah di tengah penderitaan rakyatnya.

Kini, dengan kejatuhan Bashar, perhatian internasional tertuju pada bagaimana HTS dan Abu Mohammed Al Julani akan membentuk masa depan Suriah.

Pergeseran kekuasaan ini bukan hanya soal siapa yang memimpin, tetapi juga soal bagaimana Suriah, yang hancur akibat perang dan konflik sektarian, dapat kembali bangkit.

Perjuangan untuk stabilitas dan perdamaian masih panjang, dan dunia menanti langkah selanjutnya dari negara yang telah lama terpuruk ini.

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#bashar al assad #Pemimpin Suriah #kudeta #suriah