RADAR JOGJA - Gunung Fuji, simbol ikonik Jepang, kini terlihat tanpa lapisan salju di puncaknya untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu abad.
Perubahan dramatis ini memicu kekhawatiran tentang dampak perubahan iklim dan degradasi lingkungan yang terus berlangsung.
Untuk pertama kalinya dalam 130 tahun, puncak Gunung Fuji tanpa salju hingga akhir Oktober 2024.
Ini menandai rekor baru, mengingat salju biasanya mulai turun pada awal Oktober, dengan lapisan salju pertama yang tercatat biasanya terbentuk pada tanggal 2 Oktober.
Namun, tahun ini suhu hangat yang berlangsung hingga akhir bulan mengakibatkan tidak adanya hujan salju yang tercatat di gunung ini.
Ahli meteorologi dari Kantor Meteorologi Kofu, Yutaka Katsuta, mencatat bahwa kondisi ini belum pernah terjadi sejak pencatatan dimulai pada tahun 1894.
Rekor sebelumnya untuk keterlambatan turunnya salju tercatat pada 1955 dan 2016, ketika salju muncul pada tanggal 26 Oktober.
Musim panas 2024 juga tercatat sebagai yang terpanas dalam sejarah Jepang, dengan suhu rata-rata antara Juni hingga Agustus mencapai 1,76 derajat Celsius lebih tinggi dibandingkan rata-rata periode 1991 hingga 2020.
Cuaca hangat yang ekstrem ini dipicu oleh fenomena jet stream subtropis yang memungkinkan aliran udara selatan yang lebih hangat memasuki wilayah Jepang.
Jet stream merupakan aliran cepat dari udara yang bergerak mengitari planet.
Fenomena ini terbentuk akibat pertemuan antara massa udara hangat dari selatan dan udara dingin dari utara.
Dalam beberapa bulan terakhir, sekitar 1.500 wilayah di Jepang mengalami hari-hari "sangat panas," dengan suhu melebihi 35 derajat Celsius.
Meskipun suhu telah sedikit mereda di bulan Oktober, namun tetap tidak cukup untuk mendukung pembentukan salju.
Para ilmuwan memperingatkan bahwa fenomena ini bukan hanya masalah lokal, melainkan indikator global perubahan iklim yang lebih luas.
Penurunan lapisan salju di berbagai wilayah telah dipelajari dan dihubungkan dengan aktivitas manusia yang mempercepat pemanasan global.
Di Jepang, bahkan resor ski di Sapporo, yang biasanya bergantung pada salju, mulai membahas pengurangan skala festival salju karena kekurangan salju.
Meskipun ramalan cuaca menunjukkan kemungkinan hujan salju di sekitar Gunung Fuji pada 6 November, fenomena tanpa salju ini jelas mencerminkan tantangan yang dihadapi oleh lingkungan akibat perubahan iklim.
Dengan suhu global yang terus meningkat, para ahli memperingatkan bahwa kita mungkin akan melihat lebih banyak kejadian serupa di masa depan, yang mengingatkan kita akan pentingnya upaya pelestarian lingkungan dan mitigasi perubahan iklim. (Isti Nurul Hidayah)