Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Langkah Pemerintah Korea Selatan dalam Menghadapi Tingginya Angka Bunuh Diri dan Kesepian

Meitika Candra Lantiva • Kamis, 31 Oktober 2024 | 20:36 WIB
Ilustrasi orang depresi dan kesepian.
Ilustrasi orang depresi dan kesepian.


RADAR JOGJA - Pemerintah Korea Selatan tengah berupaya keras menemukan solusi inovatif untuk menanggulangi peningkatan angka bunuh diri di negara tersebut.

Selama beberapa tahun terakhir, Korea Selatan mencatat angka bunuh diri yang relatif tinggi dibandingkan dengan negara maju lainnya.

Beragam faktor, termasuk tekanan sosial, kesulitan ekonomi, dan masalah kesehatan mental, dianggap berperan besar dalam situasi ini.

Seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat, pemerintah memperkuat langkah-langkah untuk menekan angka bunuh diri dan menciptakan lingkungan yang lebih suportif.

Pemerintah Seoul mencatat bahwa angkat tertinggi sejak tahun 2015 terdapat 23,2% dari 100 ribu penduduk melakukan bunuh diri.

Angka bunuh diri di Korea Selatan, lebih tinggi laki-laki daripada perempuan.

Pemerintah mengatakan jika satu dari dua penduduk Seoul mengalami gangguan mental.

Dalam 5 tahun terakhir, tingkat deperesi atau gangguan mental kini meningkat menjadi 8,5 %.

Untuk mengatasi ini, pemerintah dikatakan akan menambah staf untuk panggilan 24 jam untuk memberikan pertolongan bagi orang yang berniat bunuh diri.

Selain itu, pemerintah juga akan memberikan bantuan subsidi berupa layanan konseling professional dengan 80.000 won atau setara Rp 910.000 per sesi selama delapan minggu atau dua bulan.

Pemerintah akan menerapkan pendekatak proaktif sehingga dapat mencegah pemikiran untuk bunuh diri dengan membentuk Komite Pencegahan Bunuh Diri Kota Seoul.

Komite tersebut bertugas untuk menganalisis secara statistik yang berkaitan dengan bunuh diri serta melakukan otopsi psikologis.


Pemerintah juga mencatat bahwa terdapat fenomena bernama “gedoksa” atau kematian karena kesepian serta keterasingan.

Ternyata selain tekanan sosial, kesulitan ekonomi, dan masalah kesehatan mental, faktor kesepian dan keterasingan juga dapat menjadi penyebabnya.

Jumlah kematian pada 2021 mencapai 3.378 dan terus mengalami kenaikan hingga 3.661 pada tahun 2023.

Untuk mengatasi fenomena gedoksa, pemerintah Korea Selatan dikatakan akan mengeluarkan sana sebesar 451,3 miliar won atau setara Rp5,1 triliun dalam 5 tahun ke depan.

Pada hotline 24/7 dan platform online, pemerintah juga akan memberikan layanan konseling bagi masyarakat yang merasa kesepian.


Pemerintah juga akan memperluas layanan psikologis, membuat ruang terbuka hijau, rencana makanan bergizi bagi setenagh paruh baya dan lanjut usia, melakukan identifikasi pada penduduk yang terisolasi, serta melaksanakan kegiatan produktif seperti olahraga, berkebun, klub buku, serta kegiatan lainnya. (Isti Nurul Hidayah)




Editor : Meitika Candra Lantiva
#kesepian #inovatif #Tekanan sosial #pemerintah #kesehatan mental #bunuh diri #Korea Selatan #Pemerintah Korea Selatan #angka bunuh diri #menghadapi #Ekonomi #solusi