RADAR JOGJA - Ribuan warga Palestina di Jalur Gaza utara menolak perintah evakuasi yang dikeluarkan oleh tentara Israel di tengah intensifikasi serangan udara dan artileri di wilayah tersebut.
Warga di kamp pengungsi Jabalia, Beit Hanoun, dan Beit Lahia secara tegas menolak untuk meninggalkan rumah mereka, meskipun mendapat tekanan dari Israel untuk bergerak ke selatan yang diklaim sebagai zona aman.
Ibrahim Awda, salah satu warga negara yang tinggal di kamp pengungsi Jabalia, mengungkapkan keteguhan warga untuk bertahan di rumah mereka.
“Lebih baik mati daripada pergi,” kata Awda kepada Anadolu, setelah dua anaknya tewas dan rumahnya hancur akibat serangan Israel.
Ia menegaskan bahwa warga di Jabalia tidak akan tunduk pada perintah evakuasi Israel.
Serangan Israel di Jalur Gaza menyusul serangan oleh kelompok Hamas tahun lalu telah memicu kecaman internasional, meski seruan Dewan Keamanan PBB untuk segera melakukan gencatan senjata diabaikan.
Otoritas kesehatan setempat melaporkan ratusan korban tewas dan ribuan terluka akibat serangan yang terus berlangsung.
Sebagian besar penduduk Gaza kini mengungsi di tengah blockade yang memperburuk kekurangan makanan, air bersih, dan obat-obatan.
Sementara itu, As’ad Al-Nadi, warga lain dari Jabaila, mengaku mencoba melarikan diri ke “zona aman” di Gaza City bagian barat.
Ia menggendong putranya yang terluka untuk dibawa ke Rumah Sakit Al-Ahli Baptist guna mendapatkan perawatan.
Meski masih merasa khawatir akan keselamatan keluarganya, Al-Nadi bersikeras bahwa ia tidak akan meninggalkan rumahnya di Jabaila untuk pindah ke selatan.
Baca Juga: Modifikasi Lampu Angel Eyes Berbeda dengan Demon Eyes, Ini Penjelasannya!
Awda menyebutkan tragedi terbaru di mana setidaknya 26 orang tewas dalam serangan Israel terhadap sebuah sekolah dan masjid yang digunakan sebagai tempat penampungan pengungsi di Kota Deir Al-Balah, Gaza Tengah, sebagai bukti bahwa tidak ada tempat aman di Gaza. (Ahmad Fatkhurohman)
Editor : Meitika Candra Lantiva