RADAR JOGJA - Pasukan elite Hizbullah, yang dikenal dengan Brigade Radwan, kembali menjadi sorotan setelah komandan unit Ibrahim Aqil tewas dalam serangan Israel pekan lalu.
Konflik antara Israel dan Hizbullah terus memanas, dengan pasukan militer Israel mengklaim bahwa mereka menargetkan pasukan khusus Radwan yang dianggap sebagai ancaman di perbatasan utara.
Brigade Radwan dikenal sebagai unit penting dalam strategi Hizbullah yang telah lama berkonflik dengan Israel.
Pasukan ini memainkan peran besar dalam beberapa serangan di perbatasan setelah Israel melancarkan agresi terhadap Palestina pada Oktober 2023.
Hubungan erat Hizbullah dengan Hamas dan dukungan dari Iran menjadikan Radwan bagian penting dalam potensi perluasan konflik di wilayah ini.
Analis militer menilai bahwa perbatasan Israel-Lebanon bisa menjadi medan konflik berikutnya.
Seorang mantan jenderal intelijen militer Israel Tamir Hayman menyatakan, bahwa Brigade Radwan berusaha meniru serangan dadakan Hamas di wilayah Israel selatan pada 7 Oktober.
Menurut Hayman, pasukan elite Hizbullah ini berambisi melancarkan serangan serupa di bagian utara Israel. Serangan mendadak yang dilakukan Hamas pada saat itu, yang bahkan berhasil menembus desa-desa di perbatasan, membuat Israel meningkatkan serangan balasan besar-besaran.
Karena ancaman tersebut, Israel menganggap tidak bisa membiarkan pasukan Radwan terus berkeliaran di perbatasan.
Analis militer Israel mengungkapkan, bahwa Brigade Radwan kini memiliki misi besar untuk menaklukkan wilayah Galilea di Israel utara.
Meskipun sejarah pasukan elite ini tidak sepenuhnya diketahui, nama Brigade Radwan diambil dari nama samaran salah satu pemimpin penting Hizbullah, Imad Mughniyeh.
Mughniyeh memainkan peran vital dalam penculikan tentara Israel pada tahun 2006, yang memicu pecahnya Perang Lebanon Kedua.
Sejak saat itu, Brigade Radwan semakin aktif dan terlibat dalam berbagai operasi ofensif, termasuk menyusup ke wilayah Israel dan merebut posisi strategis.
Pasukan Radwan dikenal dengan kemampuan mereka dalam peperangan darat, terutama dalam misi-misi berisiko tinggi seperti operasi penyusupan, serangan strategis, dan peperangan perkotaan.
Berbeda dengan pasukan konvensional Hizbullah yang berfokus pada pertahanan dan kontrol teritorial di Lebanon selatan, Radwan dilatih untuk manuver ofensif dan serangan langsung.
Selain berperang melawan Israel, Brigade Radwan juga turut terlibat dalam konflik melawan ISIS di Suriah.
Meskipun Imad Mughniyeh tewas dalam serangan pada 2008, eksistensi pasukan ini terus berlanjut.
Mereka bahkan menunjukkan peningkatan aktivitas dalam tiga bulan terakhir, menjadikannya periode paling sibuk sejak konflik besar terakhir dengan Israel pada 2006.
Editor : Winda Atika Ira Puspita