Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kota Bengaluru India Terjerat Krisis Air dan Tersandung pada Kekeringan Terburuk dalam Sejarahnya

Salma Nabila Putri D • Jumat, 15 Maret 2024 | 21:40 WIB
Penduduk India mengisi air dari keran kota (BBC)
Penduduk India mengisi air dari keran kota (BBC)

RADAR JOGJA - Krisis air yang serius menimpa Kota Bengaluru, India, dengan 15 juta penduduknya membutuhkan setidaknya dua miliar liter air setiap harinya.

Lebih dari 70% pasokan air mereka berasal dari sungai Cauvery, yang menjadi sumber utama air bersih namun juga menjadi pusat konflik pembagian air antara negara bagian Karnataka dan Tamil Nadu.

Sisanya, sekitar 600 juta liter air diperoleh dari ekstraksi air tanah melalui sumur bor dan pengiriman melalui kapal tanker.

Namun, musim hujan yang lemah tahun lalu telah menguras tingkat air tanah, memaksa penduduk untuk menggali sumur bor lebih dalam untuk mendapatkan air.

Ini menyebabkan kekurangan pasokan air sebesar 200 juta liter setiap hari.

Pemerintah India telah mengambil langkah-langkah tegas untuk mengatasi krisis ini, mulai dari pengaturan harga kapal tanker hingga memberlakukan denda bagi pelanggar yang menggunakan air minum untuk aktivitas seperti berkebun dan mencuci kendaraan.

Pemerintah juga telah meningkatkan pengawasan terhadap penggunaan air di setiap rumah tangga.

Dampak krisis air ini terasa di seluruh kota, namun lebih parah dialami oleh masyarakat di pinggiran Kota Bengaluru, khususnya di 110 desa.

Meskipun beberapa desa menerima pasokan air dari sungai Cauvery berkat keputusan pemerintah beberapa tahun lalu untuk mengalihkan tambahan air sungai, namun pasokan tersebut tidak sebanding dengan pertumbuhan penduduk dan pembangunan infrastruktur.

Masyarakat di sana bahkan harus membayar untuk menggunakan truk tangki air.

Beberapa pihak mengungkapkan kekhawatiran bahwa situasi ini akan memburuk saat musim panas mencapai puncaknya.

Namun, para pejabat meyakinkan bahwa situasi akan membaik dalam beberapa bulan mendatang.

Harapan tertuju pada proyek tahap kelima yang sedang berlangsung untuk memasok air ke kota dari sungai Cauvery.

Proyek ini dijadwalkan selesai pada bulan Mei dan diharapkan dapat meringankan beban krisis air yang dialami masyarakat.

Namun, mantan ketua dewan, Tushar Girinat, menunjukkan keraguan terhadap proyek tersebut, menyatakan bahwa pertumbuhan kota yang pesat membuat sulit untuk memprediksi pemenuhan kebutuhan air hingga tahun 2035-2040.

“Tetapi hal itu tidak mungkin terjadi mengingat tingkat pertumbuhan kota ini. Saya tidak memperkirakan hal ini akan terjadi lebih dari tahun 2029,” ujarnya.

Editor : Bahana.
#Kekeringan #krisis air #india