Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dampak Konflik Israel dan Hamas, Dokter di Gaza: Kami membiarkan pasien berteriak Berjam-jam !

Affandi Hengky Setyawan • Rabu, 21 Februari 2024 | 21:48 WIB
Kondisi terkini wilayah Gaza dampak konflik Israel dan Hamas yang tak berkesudahan.
Kondisi terkini wilayah Gaza dampak konflik Israel dan Hamas yang tak berkesudahan.

RADAR JOGJA – Konflik Israel dan Hamas di Jalur Gaza masih terus bergulir.

Akibatnya, dampak korban semakin meluas.

Bahkan, kondisi Gaza sangat memperihatinkan.

Tak hanya warga, dunia medis pun turut terdampak.

Dilansir dari BBC News, para Dokter mengabarkan, kondisi pasien semakin tragis. Minimnya pasokan fdan alat medis, sehingga tindakan operasi tanpa menggunakan obat bius.

Pun, mengobati luka yang sudah membusuk, dokter hanya mengandalkan persediaan medis yang sangat terbatas.

"Karena kekurangan obat pereda nyeri, kami membiarkan pasien menjerit berjam-jam ” ungkap salah seorang dokter dikutip dari BBC News.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menggambarkan kondisi layanan kesehatan di Gaza.  “tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata," ungkap WHO.

Disebutkan, bahwa 23 rumah sakit di Gaza tidak berfungsi sama sekali pada hari Minggu (18/2/2024). Sebanyak 12 di antaranya berfungsi sebagian dan hanya berfungsi minimal.


Para dokter mengatakan mereka kesulitan bekerja dengan persediaan medis yang terbatas.

“Kami tidak dapat menemukan setetes pun oksigen,” kata salah satu korban.

“Kami kekurangan obat bius, pasokan untuk ICU, antibiotik, dan yang terakhir obat penghilang rasa sakit,” kata seorang dokter bernama Al-Akkad.

“Ada banyak orang yang mengalami luka bakar parah, kami tidak memiliki obat penghilang rasa sakit yang cocok untuk mereka,” imbuhnya.

Tim WHO mengatakan, mereka baru-baru ini bertemu dengan seorang gadis berusia tujuh tahun di rumah sakit Gaza Eropa yang menderita 75 persen luka bakar, namun tidak dapat menerima obat pereda nyeri karena persediaan yang terbatas.

Dr Mohamed Salha, penjabat direktur rumah sakit Al-Awda di Gaza utara mengatakan, orang-orang diangkut untuk perawatan di sana dengan menggunakan keledai dan kuda.

“Bencananya adalah luka pasien sudah membusuk, karena lukanya sudah terbuka lebih dari dua atau tiga minggu,” ujarnya.

Dirinya juga mengatakan para dokter di sana melakukan operasi dengan penerangan lampu senter karena kekurangan listrik. 

 

Editor : Meitika Candra Lantiva
#Israel #Palestina #rumah sakit tidak berfungsi #gaza #konflik #obat pereda nyeri #dunia medis #dokter #hamas #pasien