RADAR JOGJA - Gelombang simpati yang semula membanjiri media sosial atas kasus tewasnya seorang pria yang diduga mencuri ayam di Baturiti, Bali, kini berubah menjadi perdebatan panjang. Di platform Threads, warganet mulai mempertanyakan narasi yang sejak awal hanya berfokus pada tangisan anak korban. Muncul berbagai unggahan dari akun yang mengaku sebagai warga sekitar lokasi kejadian dan menawarkan sudut pandang berbeda.
Pada awal kasus mencuat, perhatian publik tertuju pada video yang memperlihatkan anak korban menangis di samping jenazah ayahnya. Banyak orang tersentuh dan menggalang bantuan bagi sang anak. Tidak sedikit publik figur yang ikut menyuarakan kepedulian, sehingga simpati terhadap keluarga korban terus mengalir.
Namun, beberapa hari setelahnya, percakapan di Threads mulai bergeser. Sejumlah akun yang mengaku warga Baturiti menyebut kasus pencurian ayam di wilayah mereka bukanlah kejadian baru. Mereka mengklaim aksi pencurian ternak telah berulang kali terjadi dan merugikan para peternak. Bahkan, ada yang menyebut para pelaku telah menggunakan berbagai cara untuk mengincar sasaran. Klaim-klaim tersebut ramai dibagikan dan memicu diskusi baru di media sosial, meski sebagian besar masih berupa kesaksian pribadi yang belum seluruhnya terverifikasi.
Perubahan arah opini semakin terasa setelah kepolisian mengungkap bahwa korban diduga merupakan residivis kasus pencurian dan tengah menyelidiki dua perkara sekaligus, yakni dugaan pencurian serta kasus pengeroyokan yang menyebabkan korban meninggal dunia. Informasi tersebut membuat sebagian warganet mulai mengingatkan agar rasa iba kepada keluarga korban tidak berubah menjadi pembenaran terhadap tindakan kriminal. Di sisi lain, banyak pula yang menegaskan bahwa aksi main hakim sendiri tetap tidak bisa dibenarkan apa pun alasannya.
Fenomena ini menunjukkan betapa cepatnya opini publik di media sosial berubah ketika informasi baru bermunculan. Jika pada awalnya ruang digital dipenuhi rasa empati, kini diskusi berkembang menjadi perdebatan tentang keadilan, keamanan masyarakat, hingga bahaya menghakimi sebuah peristiwa hanya dari satu potongan video.
Editor : Iwa IkhwanudinSumber : Berbagai Sumber