SLEMAN - Sidang terdakwa pembakaran tenda Polda DIY, Perdana Arie Putra Veriasa, kembali digelar di Pengadilan Negeri Sleman Kamis (22/1/2026) dengan agenda pemeriksaan saksi yang diajukan oleh penasihat hukum terdakwa.
Salah satunya adalah ahli psikologi, Dewi Handayani Harahap.
Dalam keterangannya, Dewi menyebut tindakan individu secara psikologi akan berbeda saat di tengah kerumunan.
Perilakunya akan dipengaruhi oleh identitas sosial. Dalam hal ini, identitas keseluruhan massa aksi demonstrasi pada Agustus 2025 lalu memengaruhi identitas individu. Jadi ada kecenderungan mengadopsi perilaku massa.
Tanggung jawab pribadi hilang dan berpotensi menimbulkan perilaku menyimpang.
"Individu merasa terlindungi dan hilang tanggung jawab pribadinya. Perilaku impulsif jadi tidak masalah," ucapnya memberi keterangan.
Baca Juga: Keren! Dulu Jadi Tempat Pembuangan Sampah Liar, Carik Condongcatur Ubah Lahan Jadi Perkebunan Subur
Perilaku pembakaran oleh Arie, dipengaruhi oleh cara berpikir, merasa, bersikap, dan perilaku.
Proses mendapat informasi memengaruhi pola pikor soal demo, apalagi jika ada empati karena adanya korban.
Kondisi ini menimbulkan sikap dari para demonstran bahwa ada sesuatu yang harus dilawan. Diwujudkan dengan perilaku datang ke aksi demonstrasi.
"Jadi ada cara pandang yang sama bahwa demo adalah isu bersama dan harus diperjuangkan," tambahnya.
Baca Juga: Waspada! Siklon 91S Kembali Muncul, Hujan Lebat Jadi Ancaman di DIJ hingga Akhir Januari
Besarnya tindak penyimpangan seseorang juga dipengaruhi oleh pembiaran. Hal ini mengacu pada prinsip reward dan punishment.
Saat awal-awal penyimpangan dilakukan, tetapi tidak ada tindakan yang dilakukan, ada kecenderungan untuk terus melakukannya.
Terlebih, dalam aksi demontrasi dengan durasi panjang semacam ini, seseorang cenderung tidak bisa berpikir jernih. Tidak ada waktu untuk rileks sehingga identitas massa jadi lebih dominan.
Baca Juga: Laporan Dugaan Pelecehan Tak Berdasar Picu Perundungan dan Pengusiran Keluarga di Bantul, hingga Sebabkan Empat Warga Diamankan Polresta Jogja
"Perilaku individu itu dipengaruhi genetik dan lingkungan. Kadang pengaruh faktor eksternal ini lebih besar dibanding bawaannya," tambahnya.
Dalam psikologi dia sebut tidak mempersoalkan benar dan salah. Namun, setiap orang memang berpeluang untuk melakukan apapun.
Apalagi di tengah kondisi yang ricuh. Massa aksi barangkali berangkat dari kampus tidak ada niat untuk melakukan pembakaran, tetapi situasi bisa mendorong perilaku tersebut. (del/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita