Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dijanjikan Cuan Hanya dengan Download Aplikasi, 1.300 Warga Kebumen Jadi Korban Investasi Bodong

Muhammad Hafied • Senin, 4 Agustus 2025 | 02:29 WIB
Wardoyo, 61, bersama istri mendatangi kantor agensi periklanan untuk minta pertanggungjawaban. Keduanya mengaku sebagai korban investasi bodong.
Wardoyo, 61, bersama istri mendatangi kantor agensi periklanan untuk minta pertanggungjawaban. Keduanya mengaku sebagai korban investasi bodong.

 

 

 

 

KEBUMEN - Ribuan warga di Kabupaten Kebumen menjadi korban penipuan berkedok investasi digital. Dengan iming-iming keuntungan harian dari aktivitas sederhana seperti mengunduh aplikasi, para korban justru mengalami kerugian hingga puluhan juta rupiah. Agensi periklanan yang menjadi perantara investasi tersebut kini telah menghilang.

Modus penipuan ini menyerupai skema Ponzi. Peserta dijanjikan keuntungan tetap setiap hari setelah menyetor sejumlah dana awal.

Investasi ini dipromosikan melalui platform digital dan group Telegram. Seperti dialami pasangan suami istri Wardoyo, 61, dan Endang Sulastri, 58 asal Desa Mekarsari, Kecamatan Kutowinangun.

Keduanya mengaku tergiur iming-iming keuntungan besar dalam waktu singkat dari aktivitas online di platform digital. Faktanya setelah tiga bulan berjalan, mimpi meraih keuntungan tak pernah teruwujud.

"Pikiran saya lumayan buat nambah uang dapur. Eh ternyata belum sempat narik, sudah kacau," jelasnya, kepada Radar Jogja, Sabtu (2/8).

Padahal dia beserta istri telah menyetorkan dana awal sebagai syarat bergabung senilai Rp 2,2 juta. Jika sesuai rencana, sedianya dia bakal mendapat keuntungan Rp 105 ribu per hari dengan hanya mengunduh aplikasi yang telah ditentukan agensi. "Saya keseharian tani, uang segitu sudah banyak banget," sambungnya.

Berdasarkan informasi, ada sekitar 1.300 warga Kebumen ikut bergabung dalam aktivitas investasi skema ponzi tersebut. Bahkan tidak sedikit dari mereka menyetorkan dana tidak kurang Rp 10 juta-Rp30 juta. "Dikumpulkan pakai grup telegram. Teman-teman sebenarnya sudah minta tanggungjawab, tapi tidak ada kejelasan," ungkapnya.

Wardoyo pun mengaku sempat minta kejelasan dari koordinator kabupaten. Namun hasilnya tetap nihil. Dia semakin terkejut ketika mendatangi kantor perwakilan agensi, justru kantor tersebut telah tutup. "Sebelumnya sudah digeruduk teman-teman, sekarang saya datang malah tutup," katanya.

Korban lain berinisial A, 37, menyatakan, aktivitas investasi bodong ini telah membuat resah. Banyak warga Kebumen yang tergiur ikut bergabung karena hasil yang dijanjikan cukup besar. Terutama bagi mereka yang masih awam soal modus investasi dan skema ponzi.

Tidak sedikit juga korban rela menjual aset seperti tanah, emas hingga kendaraan demi ikut bergabung pola investasi bodong tersebut. "Beberapa pakai uang kas kantor, pikirnya uang mau balik. Ternyata zonk," terangnya.

Pemilik ruko Sumarno, 48, mengatakan, sudah sepekan terakhir kantor agensi sepi dari aktivitas. Puncaknya kantor tersebut tutup total pada Jumat kemarin. Dia menyatakan, aktivitas kantor terlihat tidak wajar dari awal sewa. Orang-orang yang terlibat didalam terkesan tertutup. "Pertama masuk puasa. Bilangnya mau buat pengajian," urainya.

Sumarno menyatakan, tutupnya kantor tersebut sampai sekarang masih meninggalkan piutang. Belakangan kecurigaan yang dia rasakan terjawab setelah banyak masyarakat datang untuk minta pertanggungjawaban. "Aneh, awalnya saya minta sewa tahunan. Tapi disanggupi bulanan. Baru ketebak setelah ratusan orang datang ke sini nagih uang," tuturnya. (fid/pra)

Editor : Heru Pratomo
#download aplikasi #cuan #investasi bodong #kebumen #Penipuan #grup Telegram #dijanjikan