UNGARAN -Rumah yang terletak di Dusun Srumbung, Desa Bergas Kidul, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang masih dipenuhi para pelayat.
Para pelayat masih terus berdatangan untuk memberikan simpati kepada keluarga.
Ya, keluarga Muhammad Nastain 30, dosen muda Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogja yang ditemukan meninggal dunia di indekosnya di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Ayah korban, Ngadi, yang terlihat tegar di tengah seluruh keluarga bersamaan menangis mengenang korban.
Pria 54 tahun itu masih ada rasa penyesalan.
Sambil mengingat, Ngadi menceritakan keinginannya menukar motor anaknya dengan motor yang baru.
"Ada rencana saya mau antarkan motor itu ke Jogja, lalu motor lamanya saya bawa pulang."
"Tapi belum sempat. Sejak kecil dia itu memang berbeda."
"Teman-temannya main bola dia baca buku. Itu buku atlas sampai kusut sering dibaca," katanya.
Ngadi mengatakan tidak ada firasat apapun saat itu.
Bahkan saat pertemuan terakhir anak dan bapak itu di hari Lebaran Idul Fitri 1446 H lalu.
Sejak sekolah sampai menjadi dosen Nastain tidak pernah neko-neko.
Untuk memudahkan perjalanannya Nastain, ia hanya mengandalkan motor Beat lamanya yang dibelikan sang bapak.
Ngadi menceritakan sempat menawari Nastain mobil, namun ditolak.
Sehingga Ngadi berinisiatif membeli motor baru.
Berharap bisa memberi kejutan untuk sang anak yang tak pernah menuntut apapun.
"Anaknya tidak pernah mengeluh."
"Saya itu kasihan melihat dia berkendara dengan motor tua di tengah rekan-rekannya yang sudah memakai mobil."
"Saya tawari tidak mau,"kenangnya.
Muhammad Nastain bukanlah sosok biasa.
Alumni S1 Biologi Universitas Diponegoro (Undip) dan S2 Biologi UGM itu dikenal sebagai pribadi yang cerdas dan tekun.
Saat sebelum dia meninggal tengah merintis jalan sebagai akademisi, menjadi dosen lepas di UGM sembari menyiapkan pendaftaran S3 di kampus yang sama.
Ngadi juga menceritakan sehari sebelum kabar duka itu didengarnya ia mengunjungi Makam Gus Dur di Jombang.
Di sana Ngadi selalu medoakan anaknya tanpa mengetahui kabar putranya keeesokan harinya.
"Tidak ada firasat apapun. Tapi saat ke sana yang saya doakan saat itu hanya Nastain seorang," katanya. (ria)
Editor : Iwa Ikhwanudin